Saya pernah belajar intensif soal menulis dari seorang editor senior. Salah satu hal yang beliau sampaikan, kalau ada buku bagus itu tidak selalu karena penulis bukunya keren, ada penulis yang idenya bagus tapi amburadul tulisannya. Yang bikin bukunya enak dibaca pembaca ya karena editornya. Tapi tahulah nasib editor, tersembunyi dan hanya tersebut di halaman setelah sampul, itu pun kalau dibaca.

Kemudian soal kitab-kitab yang berbahasa Arab, jangan dikira dulu ulama-ulama besar langsung bikin kitab seperti itu. Wong jaman dulu ga ada mesin cetak. Ulama menulis untuk dirinya sendiri, ada yang diwariskan untuk keluarganya atau murid kinasihnya, dan bagi yang ingin mengabadikan pelajaran itu agar bisa jadi oleh-oleh pulang kampung biasanya mengikuti majelisnya dan sang ulama mengimla’ (mendiktekan isi kitabnya) supaya disalin para murid yang hadir.

Nah pertanyaannya, kitab yang sampai pada kita sekarang adalah salinan dari manuskrip ulamanya sendiri, yang diwariskan ke keluarganya, atau tulisan para murid yang mengikuti imla’ sang ulama. Itu pun masih harus ditanyakan lagi, berapa fase editing kitab tersebut terjadi, misalnya ditata ulang sesuai kategori tertentu, diedit ulang tata tulisan arabnya, dan banyak hal yang bisa terjadi. Padahal kitab-kitab tersebut bukan al Quran lho. Ingat itu bukan al Quran.

Eh tapi generasi sekarang itu adalah murid-murid syaikh Google muttafaqun alayh ding. Kalau syaikh Google ditanya dia akan memunculkan berbagai riwayat dari yang paling mutawatir sampai yang ahad, bahkan yang mursal. Nah, karena asumsinya syaikh Google itu muttafaqun alayh makanya apa pun hasil bertanya syaikh Google ditelan utuh. Betapa hebatnya santri-santri di abad ini. Imam Syafi’i sampai heran, “itu orang-orang kok bisa ya mengkritik saya melakukan kesalahan begini begitu, padahal saya mati-matian selama hidup berguru sampai bisa merumuskan kaidah usul fikih.” Tentu saja ini kalimat khayal ketika saya berkhayal sowan Imam Syafii setelah mendengar beberapa anak muda yang sok tahu dan mengkritiki beliau.

Lewat status ini saya cuma mau bilang. Pengetahuan kita itu perlu terus dikelola, dikoreksi, ditambah, diteguhkan, hingga akhirnya menjadi sebuah keyakinan. Jadi jangan sak klek-sak klekan gitu kalau belajar apa pun. Yang penting kita kunci dengan iman dan terus bergerak untuk menyelami samudera ilmu-Nya yang maha luas ini. Setiap dapat pengetahuan konfirmasikan langsung ke Allah, jangan debat kusir dan merasa selalu yang paling benar. Karena manfaat ilmu pertama-tama ya untuk diri sendiri, barulah setelah itu ke orang lain di sekitarnya hingga generasi selanjutnya.

Juwiring, 1 November 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.