Dalam berdakwah, yang ditampilkan adalah akhlak dan argumentasi ilmu. Dalam konsep keyakinan beragama, jika kita penganut agama yang teguh, sudah pasti tidak mengenal poliiman. Kalau Anda seorang muslim, pasti tidak akan mengakui adanya agama lain kecuali kebenaran agama Islam yang diyakini. Demikian jika Anda seorang Protestan, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu maupun yang lainnya, pasti Anda berkeyakinan agama Anda paling benar dan menyelamatkan, makanya Anda pun akan mengajak umat lain ke dalam agama yang Anda peluk. Dan seharusnya umat beragama yang serius ya begitu itu, tidak malah membuat pernyataan semua agama benar. Ya kalau semua agama benar, mengapa jadi pemeluk satu agama, kenapa tidak gonta-ganti agama.

Yang tidak boleh adalah memaksa orang lain untuk memeluk agama yang kita yakini dengan cara-cara kekerasan dan manipulatif. Provokasi persaingan antar agama semacam ini sering diproduksi untuk mengadu domba dan merusak persaudaraan. Misalnya gerakan Kristenisasi, umat Islam yang “garis keras” sering terprovokasi dan melakukan tindakan anarki. Padahal misi teman-teman Kristen dalam rangka Kristenisasi jika dilakukan dengan pendekatan bakti sosial dan bagi-bagi pengetahuan tentang ajaran ke-Kristen-an mereka kepada umat Islam seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam bahwa ternyata masih belum maksimal menjalankan ajaran agamanya, terutama tentang kepedulian terhadap kondisi ekonomi sesama muslim dan juga belum mendidik umat dengan sungguh-sungguh agar teguh dengan keyakinannya.

Sebagai umat mayoritas di Indonesia, potensi adu domba internal umat Islam rawan terjadi. Selain itu, aktivitas penyeru dari agama lain juga terus berjalan. Bagi sebagian umat Islam yang mudah diprovokasi akan mengkambinghitamkan gerakan itu sehingga terjadilah keributan-keributan yang terkadang sampai merembet jadi kerusuhan dan perang antar golongan. Padahal setelah diselidiki lebih detail penyebabnya macam-macam. Kalau konflik antar internal umat Islam terjadi karena para pemukanya enggan berkonsolidasi dan silaturahim, terkadang urusan persaingan jumlah pengikut dan kapital bisnis. Kalau konflik antar agama, seringkali terjadi karena infiltrasi kepentingan politik. Misalnya konflik Ambon yang mengerikan itu, konon adalah perang antara masyarakat nasionalis (sebagian besar Islam, tapi juga ada Kristen-nya) dengan RMS (yang sebagian besar Kristen) yang didalangi oleh Belanda dkk, bukan perang agama Islam vs Kristen. Dan isu adu domba semacam itu pasti akan terus diproduksi untuk melahirkan kelompok radikal yang menimbulkan teror.

Keyakinan agama itu dimensinya pribadi dan sosial. Yang pribadi adalah menyangkut urusan ikrar kesetiaan, sedangkan yang sosial menyangkut kontribusi pada kehidupan manusia. Makanya jika semakin meyakini bahwa ajaran agama kita yang paling baik, seharusnya perilaku kita semakin mencerminkan kebaikan dari agama yang kita peluk, bukan malah bertindak kriminal dan mudah terpancing emosi. Semua Nabi pasti berangkat berdakwah dengan cinta dan argumentasi, bukan dengan pemaksaan. Makanya yang mengaku pengikut Nabi Muhammad, mosok baper dengan isu-isu adu domba semacam itu.

PR umat Islam memang serius. Misalnya mempersatukan umat dalam satu masjid. Selama ini masjid justru menjadi ajang rebutan kekuasaan. Karena kalah terus rebutan kuasa di pemerintahan dan perpolitikan, akhirnya rebutan kuasa di masjid. Yang menang menyingkirkan atau memaksa yang kalah untuk manut kuasa dan doktrinnya. Akhirnya tidak ada lagi masjid umat Islam. Yang ada masjid aliran A, B, C, D, E, F. Karena sibuk rebutan kuasa di masjid, umat pun terbelah. Ada yang beraliran, ada yang enggan beraliran alias sisan ora ngaji. Karena semua sumber daya ekonomi digunakan untuk bersaing dan umat tidak dididik, ya jangan ngamuk-ngamuk kalau tiba-tiba ada gerakan sembako sambil diajak ke Gereja tanpa sepengetahuan pihak masjid. Kan selama ini juga tidak ada administrasi yang baik untuk pengelolaan umat di sekitar masjid.

Kalau umat Islam bisa membangun masjidnya kembali dengan benar. Masjid menjadi milik semua umat, dari aliran yang paling sana hingga yang sono. Sering digelar forum debat keilmuan, ada musyawarah bersama untuk urusan sosial, ada layanan kesehatan, zakat, bahkan bila perlu ada kelas diskusi pengenalan Islam kepada umat non Islam, insya Allah umat Islam akan punya kerjaan yang bermutu ketimbang marah-marah dan dimainkan oleh berbagai isu adu domba yang merusak kerukunan seperti sekarang. Jika umat Islam bisa menahan diri untuk tidak tersulut pada anarkisme, insya Allah kita tidak dihina-hina sebagai teroris dan sejenisnya.

Juwiring, 8 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.