Realitas negara, parpol, organisasi, asosiasi, ormas, dan sejenisnya sekarang sudah menjadi berhala baru dalam alam pikiran manusia. Saking berimannya dengan realitas tersebut, seolah-olah tidak punya opsi dalam kehidupan bahwa negara suatu saat bubar, berganti baru. Apalagi parpol, organisasi, asosiasi, ormas dll itu lebih rawan bubar lagi.

Padahal realitas hidup yang Allah takdirkan atas kita ya manusia. Kedudukan manusia itu sunnatullah yang Dia tetapkan atas kita di muka bumi ini. Dan fitrahnya manusia dengan manusia lainnya adalah membuat interaksi dan perjanjian. Bentuk perjanjian tersebut dapat berupa pernikahan, bernegara, hingga bermusuhan. Semua adalah bagian dari perjanjian yang dibangun berdasarkan konsepsi pemikiran yang ada.

Maka seharusnya negara, parpol, organisasi, asosiasi, dll dalam alam pikiran kita ya ditempatkan sebagai bagian yang suatu saat dapat berubah. Ia hanya sebuah bentukan yang bisa saja usang dan suatu saat harus berganti. Negara dibentuk karena kepentingan dari para manusia untuk memandatkan sebagian kepentingan mereka yang bersifat kolektif agar diurusi. Artinya perjanjian itu berlaku jika hal yang disepakati dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Maka dari itu, ketimbang ribut soal NKRI, DKI dan segala hal yang dalam peta koordinat pikiran kita tidak penting-penting amat dibahas, ya tidak usah dibahas to. Mending sekarang kita dalami lagi makna kemanusiaan, makna Islam, makna Pancasila, dan kita segarkan lagi perjanjian-perjanjian di antara kita sesama manusia. Agar kita kembali sadar bahwa kedudukan kita sebagai manusia ini lebih tinggi dari negara, parpol, organisasi dll. Sehingga dengan kesadaran kemanusiaan kita sebagai abdullah dan khalifatullah ini, kita bisa lebih menyayangi Indonesia dan berbuat lewat hal-hal yang bisa kita kerjakan sekarang.

Cak Nun bahkan malah menegaskan bahwa, kita itu perlu menguji keimanan kita dengan bertanya. Kalau NKRI bubar bagaimana? Kalau Muhammadiyah bubar? Kalau NU bubar? Kalau apa yang sekarang itu ada bubar bagaimana? Jika kita memang sungguh-sungguh beriman ya seharusnya tidak perlu khawatir. Tapi jika kita terlalu dipenuhi kepentingan duniawi, pasti kita akan refleks menjawab agar hal itu tidak terjadi dan dicekam ketakutan. Inilah yang sesungguhnya menjadi pelemah semangat kita untuk berbuat yang lebih kepada Indonesia, karena ternyata kita itu tergantung pada Indonesia, tidak kepada Allah.

Jika kita bisa menempatkan diri kita sebagai manusia yang abdullah dan khalifatullah, niscaya kita tidak akan mengalami berbagai kegalauan serius secara massal seperti sekarang. Karena di mata kita, negara ibarat bayi yang harus kita rawat, bukan raksasa yang membuat kita takut lantas kita tunduk di bawahnya. Tapi lagi-lagi ini urusan iman. Dan jika bicara iman, setiap orang punya dimensinya sendiri-sendiri. Tapi boleh juga kok kalau kita bertanya, sebenarnya kita ini bener-bener beriman atau tidak? Karena kolom agama di KTP maupun penampilan shaleh itu tidak bisa dijadikan patokan iman kita secara keseluruhan. Buktinya, ternyata banyak juga koruptor yang rajin umroh, meskipun yang bukan koruptor tapi umroh lebih banyak lagi.

Juwiring, 30 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.