Pak Suyudi, pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo pernah berdiskusi dengan teman-teman Kopassus Kandang Menjangan sebelum pilpres 2014. Di hadapan beberapa anggota pasukan Baret Merah itu, beliau membantah argumentasi berkaitan dengan kerugian-kerugian negara yang selalu ditinjau dari sisi materi SDA.

Beliau mengkritik Prabowo dan Jokowi yang dinilai tidak serius memperhitungkan nilai seorang manusia Indonesia, yang sesungguhnya merupakan aset yang lebih bernilai harganya. Dengan penduduk sebesar ini, Indonesia sesungguhnya punya aset yang luar biasa besar. SDA yang sudah melimpah ruah ini tetap tidak ada apa-apanya dibandingkan aset-aset SDM kita yang menempati urutan kelima di dunia.

Mendengar argumentasi itu, beberapa anggota Baret Merah yang terlibat dalam diskusi itu terkejut, seolah-olah seperti belum pernah mendengar argumentasi semacam itu. Mereka manggut-manggut membenarkan penjelasan beliau.

Di kesempatan lain, Bang Ricky Elson juga mengutarakan hal senada ketika berbagi inspirasi di SABS. Menurut beliau, memperbaiki mental generasi muda agar mau berkarya mandiri dan memiliki kepercayaan diri lebih utama untuk diperjuangkan ketimbang meributkan Freeport tapi tidak memiliki kapasitas dan strategi yang jelas. Aset para pemuda di negeri ini lebih mahal ketimbang tambang Freeport di Papua.

Jika kita membaca al Quran dan mendengarkan wejangan Kanjeng Nabi, kita diberi tahu bahwa nyawa seorang mukmin itu lebih berharga dari dunia seisinya. Membunuh seorang manusia tanpa alasan yang dibenarkan-Nya, berarti sama dengan membunuh manusia seluruhnya.

Sungguh, era kapitalisme hari ini telah membuat kita terperosok pada akhlak terburuk dalam sejarah peradaban manusia, yakni meletakkan manusia sebagai budak dengan metode yang membuat mereka merasa tidak diperbudak. Setidaknya, wacana yang dibangun telah menempatkan manusia sebagai faktor-faktor produksi yang hanya bertugas menjadi mesin, bukan individu-individu merdeka yang harus berkontribusi kepada kehidupan manusia lainnya sesuai dengan kreativitasnya.

Mari direnungkan sendiri-sendiri, seberapa serius kita menilai manusia sebagai aset berharga dalam organisasi ataupun bisnis kita. Setidaknya kebiasaan berpecah belah dan suka menyingkirkan orang secara sepihak adalah pertanda bahwa nilai kemanusiaan itu diletakkan di bawah kepentingan-kepentingan sesaat yang biasanya, you know lah: UUD. Belum lagi dunia pendidikan yang menyeragamkan pikiran siswa dan membentuk pola pikir mereka seperti robot yang harus patuh pada mekanisme kurikulum aneh. Bahkan penyeragaman ini juga telah menjerat para guru, yang di zaman dahulu adalah teladan manusia-manusia merdeka sehingga bisa menggerakkan banyak orang menentang penjajahan.

Seberapa berhargakah nilai manusia dihadapan kita saat ini? Jawaban kita akan menentukan seberapa serius kita menawarkan solusi atas problematika pendidikan di negeri ini. Sekaligus menunjukkan seberapa kualitas kita dalam beriman dan beragama dengan baik. Apalagi sekarang perkara agama sering menjadi bahan perdebatan untuk pamer tahu-tahuan dan eksis-eksisan.

Juwiring, 19 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.