Namanya praktik kekuasaan itu ya bakal melahirkan konsep ndoro dan pelayan.

Demokrasi menempatkan pemerintah adalah pelayan dan rakyat sebagai ndoronya. Berbeda dengan monarki atau aristokrasi.

Maka sudah sewajarnya dalam demokrasi, rakyat clometan dan maido kinerja pemerintah itu hal biasa. Yang harus ditegaskan adalah ruang maido yang dibolehkan adalah pada urusan kinerja, bukan personal-personal pemerintahnya.

Jadi kalau rakyat maido dengan mengatakan pemerintah yang sekarang terus menambah utang, ya wajar dong. Datanya ada, tinggal dicek di kemenkeu. Pemerintah bikin tol tapi tanpa perencanaan yang matang secara keseluruhan dalam konsep perekonomian mereka, itu juga bisa dikaji dengan data-data yang ada. Pemerintah ingkar janji, karena presiden berjanji A, termyata menterinya bilang -A, itu juga wajar, bisa dilihat obyektif.

Yang tidak boleh adalah menyebut Presiden dengan ejekan-ejekan seperti plonga-plongo, kerempeng, dan segudang ejekan lain yang sifatnya personal, termasuk mengomentari hal-hal tidak penting terkait kehidupan keluarga beliau. Termasuk menyebarkan hoax beliau keturunan PKI dan berbagai tuduhan keji lainnya. Dalam hal ini saya berdiri sebagai manusia membela kehormatan beliau.

Meskipun dalam kasus hari-hari ini, pemerintah memiliki andil besar dalam kacaunya bernegara, rakyat sendiri juga turut memperparahnya dengan menjadi cebong dan kampret. Di saat pemerintah rajin berjanji kemudian mengingkari, rajin bikin kebijakan lalu dibatalkan lagi, rakyat malah terbelah menjadi cebong dan kampret. Yang jadi cebong tutup mata dan mendewakan presiden, seolah tanpa cela. Yang jadi kampret terus-terusan kampanye ganti presiden, jauh sebelum waktunya pemilu. Itu yang bikin kita sekarang mengalami kegilaan pemilu stadium IV.

Pada akhirnya, rakyat macam saya ini mending ngalih. Nggak ada gunanya ikut rame-rame soal pemilu. Paling banter nyetatus beginian, siapa tahu dibaca oleh rakyat lain yang ingin sembuh dari virus cebong/kampretnya. Selebihnya, saya jalani hari-hari dengan mengatasi sampah yang saya hasilkan secara rutin setiap hari. Saya menyadari, satu-satunya produk unggulan saya ternyata sampah. Itulah karunia Tuhan yang seharusnya saya kelola dengan sebaik-baiknya.

Ada pun negara, itu semacam benalu yang kebetulan hadir lebih dulu sebelum saya lahir. Jadi ada baiknya saya fokus ngurusi sampah yang terus saya hasilkan sebisanya. Yang keluar dari selangkangan sementara ini sudah aman dan diatasi alam secara alami. Adapun sampah dapur dan sampah-sampah eksternal akibat kehidupan rumah tangga saya, maka itulah tanggung jawab besar saya yang sebenarnya.

Surakarta, 5 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.