Jaman kolonialisme itu, para bakul kelas elit dunia (terutama bakul dari Eropa) membangun konsorsium pertuanan yang awalnya mencaploki langsung daerah-daerah yang dijajahnya.

Lama-lama mereka mundur teratur dan mendikte pemerintahan-pemerintahan negara Eropa. Sehingga penjajahan di negara-negara asia-afrika-amerika latin dilakukan oleh pemerintah negara-negara Eropa yang tunduk pada kekuasaan para tuan tadi.

Di negara-negara jajahan, para pemerintah ini mendikte para pemimpin lokal untuk menjajah rakyatnya sendiri. Ada yang bersedia berkhianat, ada yang melawan hingga ditumpas, ada yang netral asal tidak diberangus. Pemerintah penjajah cukup menyiapkan tentara dan para residen. Karena operator penjajahannya adalah para pribumi dan kaum bakul lokal.

Di sinilah birokrat ala kompeni terbentuk. Residen mendikte bupati. Bupati mendikte wedana. Wedana mendikte lurah. Lurah mendikte masyarakat untuk setoran upeti. Ketika masyarakat sudah setor upeti, lurahnya mengkorupsi sekian, sisanya disetorkan wedana. Ketika sudah terkumpul di wedana, upetinya dikorupsi lagi, sisanya disetorkan ke bupati. Bupati pun tak lupa ambil bagian, baru disetorkan ke kompeni via Residen. Para residen setor ke Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal setor ke pemerintah pusat. Pemerintah pusat setor ke para tuan, yang tak lain para kapitalis global tadi.

Demikianlah mbuletnya penjajahan di era dulu, yang kini masih berjalan. Hari ini yang sedang berjalan tidak hanya korupsi konvensional, tapi juga manipulasi global yang bikin masyarakat tidak sadar kalau dirampok secara sistematis dan terstruktur. Anehnya umat Islam di Indonesia, mudah sekali ditipu, dikelabui, dan baper.

Juwiring, 3 Maret 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.