Setelah perang saudara yang memilukan di akhir khulafa rasyidah, umat Islam berada di bawah ancaman perpecahan. Tapi mengapa mereka bisa tetap bersatu? Karena wibawa para ulama yang tetap menjaga umat agar tidak tersulut dalam pemberontakan. Kalau persatuan disebabkan oleh penguasa politiknya, berapa sih penguasa Islam yang adil. Bani Umayyah, berapa orang khalifah yang adil? Apalagi bani Abassiyah. Apalagi Turki Utsmani.

Jadi adalah hal konyol jika ada yang bilang tegaknya Islam semata-mata karena kekuasaan. Tegaknya peradaban Islam karena ilmu yang dijaga dengan teguh oleh para ulama dan masyarakat yang masih menghormati ulama. Madrasah para ulama besar itu independen, tidak dibawah kendali para Sultan yang berkuasa. Wibawa para ulama besar lebih tinggi dari para Sultan.

Itulah mengapa setiap terjadi perpecahan secara politik, ulama lah yang tampil sebagai penasihat para sultan dan menjadi penengah. Ulama rela menjadi martir agar darah umat tidak dikorbankan lebih banyak ketika menghadapi penguasa yang sangat zalim. Raja bin Hawaih, Abu Yusuf, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dll adalah contoh ulama yang menjadi martir demi menjaga umat dari kezaliman penguasa. Jika saja waktu itu Ahmad bin Hanbal memutus baiat kepada khalifah Abassiyah, maka akan terjadi perang besar dari pemberontak yang ingin membela sang imam sekaligus menggulingkan dinasti yang berkuasa.

Di tanah air, KH Hasyim Asyari, Buya Hamka, dll adalah contoh nyata ulama besar yang wibawa mereka jauh lebih besar di mata umat dari pada penguasa yang memiliki senjata dan tentara. Di wilayah-wilayahnya ada juga para ulama lokal yang disegani sehingga sezalim-zalimnya penguasa orde baru, mereka tetap memperhitungkan keberadaan para ulama. Jika para ulama ini menggerakkan umat untuk jihad melawan penguasa apa mungkin tentara bisa memadamkannya? Justru merekalah yang memilih menjadi martir umat. Tapi hari ini, sebagian umat terlalu terobsesi dengan kursi kekuasaan dan menganggap itu sebagai satu-satunya solusi. Sebagian yang lain suka bikin wacana yang tidak-tidak karena terlanjur silau sebagai fansboy peradaban Barat yang materialistis itu.

Juwiring, 4 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.