Mari belajar dari sejarah, umat Islam itu udah berkali-kali diadu domba.

Bahkan di era kekhalifahan rasyidah, umat Islam Mesir dihasut untuk mendemo khalifah Utsman bin Affan, sudah dijawab baik-baik, dihasut lagi hingga mereka kembali ke Madinah dan membunuh Utsman bin Affan.

Di era Ali bin Abi Thalib, adu domba terjadi berkali-kali. Pertama perang pun pecah antara kubu Ali dengan kubu Aisyah Ummul Mukminin. Alhamdulillah terjadi islah. Kemudian perang pecah kembali antara kubu Ali dan Muawiyah yang mengakhiri masa khalifah rasyidah menuju era Kerajaan Bani Umayyah. Ali mengalah demi terpeliharanya darah kaum muslimin.

Bahkan di masa itu, lahir golongan orang-orang khawarij yang penampilannya keren seperti umat Islam pada umumnya, hafalan Qurannya nggak kalah banyak, ibadahnya nggak kalah rajin, tapi mereka mengkafirkan Ali dan Muawiyah. Makanya mereka melancarkan makar untuk membunuh Ali dan Muawiyah.

Mereka berhasil membunuh Ali, tapi gagal membunuh Muawiyah. Ngeri sekali kan. Bahkan yang membunuh Ali itu Abdurrahman bin Muljam, orang yang hafal Quran. Makanya umat Islam yang lurus adalah mereka yang pertengahan, yang taat syariat tapi juga penuh kelembutan, bukan yang ekstrim seperti kaum khawarij.

Jika di masa keemasan itu saja adu domba itu menimbulkan ribuan nyawa melayang sia-sia dalam peperangan sesama kaum muslimin. Masak yo hari ini kita mau mengulang dan mau-maunya diadu domba lewat media dan provokasi broadcast. Cukuplah sebagai patokan jika untuk menyikapi perbedaan di antara kita kok selalu dibumbui kebencian, maka kitalah yang bermasalah.

Apalagi sekarang aneka masalah impor turut meramaikan pasar perbedaan dalam negeri. Riuh rendah menjadi “nganu”. Dari pada debat soal Timur Tengah itu perangnya gimana-gimana, mbok sudah take action, menolong korban perang yang jelas-jelas butuh pertolongan, ra sah ribut sapa sing perang, fokus sing do dadi korban kuwi. Sebagaimana kita juga selalu berbagi dengan kaum dhuafa di negeri ini yang tiap hari semakin bertambah.

Surakarta, 25 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.