Ketika umat Islam dalam kondisi tertindas dan kekuasaan sedang rusak-rusaknya, justru lahir karya-karya besar ulama yang menyejarah.

Apa dikira ketika Rasulullah memimpin Madinah, situasi umat Islam itu pas sangat sejahtera dan santai-santai? Setahu saya kok tidak ya, justru itu saat berat-beratnya hidup karena harus bertahan dan berjuang mendakwahkan Islam. Di zaman Abu Bakar tak kalah berat, di zaman Umar juga sama. Apalagi di zaman Utsman dan Ali, lebih berat lagi keadaan yang dihadapi umat Islam.

Kayaknya yang menikmati kehidupan setiap zaman itu ya mereka yang jadi komprador yang hobinya nggamblok di mana-mana. Mereka yang tidak peduli urusan akhirat yang penting kehidupan dunianya terpenuhi dan terus bisa menumpuk harta.

Di zaman Imam Bukhari, beliau bisa menulis kitab hadits yang menyejarah. Tapi bisakah kita membayangkan, sosok yang sangat luar biasa itu, ternyata jasadnya ditolak oleh masyarakat kelahirannya sendiri saat akan dimakamkan. Begitupun di zaman Syaikh Abdul Qadir al Jilany dan Imam al Ghazaly, situasi kekuasaan Islam sedang hancur-hancurnya setelah digempur pasukan Eropa dan pasukan Mongol. Tapi justru dari mereka, kita mendapatkan banyak karya besar yang luar biasa.

Jadi saya itu kadang merasa aneh, apa kalau kekuasaan Islam tegak itu lantas kita pasti bisa menikmati ibadah di masjid sepuasnya gitu? Atau kalau kekuasaan Islam hancur, lantas kita kehilangan kesempatan beribadah gitu? Lha bukankah keseluruhan hidup kita seharusnya disadari sebagai ibadah. Kenapa kita sudah bicara menang kalah di saat kita harus berjuang.

Apa sih yang mau kita cari? Kehidupan yang tenang dan santai gitu ya. Yang bergelimang harta kekayaan, terus tinggal duduk santai, minum-minum, sambil menikmati hiburan bidadari gitu? Ya kenapa itu mau dikejar di dunia saat ini. Bukankah itu yang dijanjikan Allah di syurga. Ini masih di dunia, kok sudah bicara enak-enakan. Piye sih?

Sepertinya cara berpikir kita saat ini sudah kacau balau melihat keadaan sehingga banyak hal lucu-lucu terjadi. Hanya gara-gara urusan pilkada, kita bertengkar satu sama lain. Pokoknya kita itu hobi meributkan hal-hal tidak penting, kita anggap seolah-olah penting. Sementara hal-hal mendasar dari tugas kita sebagai khalifah di bumi, malah tidak pernah dikaji kembali.

Setelah 14 abad terpisah dari Kanjeng Nabi secara jasad, mendadak saya kangen ketemu beliau. Ya Rasulullah, sekiranya bisa cangkrukan kalih panjenengan walau hanya dalam mimpi. Niscaya pengalaman semalam itu pasti mencukupi untuk menjadi semangat seumur hidup dalam menghadapi kekenthiran zaman yang aneh semacam sekarang ini.

Juwiring, 5 April 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.