Pada diskusi tadi pagi, Pak Yuni Prihadi memaparkan, pilar kekuatan Madinah menurut Syaikh Ramadhan al Buty ada empat
1. Masjid sebagai pusat kemasyarakatan
2. Persaudaraan Masyarakat
3. Dustur (perjanjian antar kelompok masyarakat)
4. Dominasi nilai-nilai kebaikan Islam pada masyarakat

Refleksi hari ini menurut saya
1. Masjid secara hakikat telah hilang, yang tertinggal adalah bangunan yang dipasangi plang Masjid
2. Persaudaraan semu, karena sangat naif teriak-teriak ukhuwah Islamiyah, tapi sambil diembel-embeli, “kamilah yang paling benar, maka bergabunglah dengan kami”.
3. Negeri ini memiliki Dustur yang bernama Pancasila dan UUD 1945 (saya lebih sepakat dg yang belum diamandemen), tapi ternyata kita setengah hati menerimanya, apalagi menjalankannya, bahkan sepertinya juga memang tidak mau memahaminya
4. Kita cuma menang jumlah, tapi sama sekali tidak dominan. Mulai dari politik kekuasaan, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, posisi Islam sekedar pelengkap, bukan sebagai sokoguru, dan umat Islam sekedar pion yang diadu ke sana kemari.

Makanya, mbok sudah, aja do mbagusi soal dakwah. Kita semua ini sedang rame-rame bergerak menuju kehancuran karena kebiasaan berpecah belah tidak karuan di berbagai bidang. Udah gitu kok masih ngomong syurga, syurgane mbahmu. Bisa selamat dari kehancuran saja syukur kok, kober-kobermen nggagas syurga. Digeguyu kodok. Mari menyelamatkan diri dari kehancuran ini, soal dapat bonus syurga manut Allah saja rak yo uwis.

Juwiring, 1 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.