Cara pandang kita pada sejarah ala Barat yang selalu berorientasi pada raja dan kebesaran pemimpin, membuat kita kehilangan pijakan dalam menemukan ilmu dan hikmah dari semua pelaku sejarah, termasuk rakyat biasa. Akibatnya kisah wayang yang begitu sarat pelajaran, cuma jatuh sebagai tontonan biasa, dan lebih celaka lagi punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dianggap sebagai badut yang cuma hobi bikin lelucon. Inilah kehancuran pikiran yang kita alami.

Padahal, Sunan Kalijaga memasukkan empat unsur punakawan itu untuk mendekonstruksi model kasta hierarkis dalam cerita wayang Mahabarata dan Ramayana yang sangat feodal. Tokoh Semar dimasukkan dalam wujud dewa paling senior dan paling sakti, tapi berperan menjadi rakyat kecil dengan 3 putra-putranya yang nyeleneh tetapi sebenarnya menjadi representasi simbolik dari filsafat, ilmu, dan kebudayaan.

Bukan hal mudah, mendakwahkan sosok Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat Jawa yang saat itu sangat kuat dengan dunia mistik dan feodalisme berbasis dogma hierarki dewa-resi-ksatria. Maka beliau masukkan karakter Muhammad SAW dalam tokoh Semar itu, sudah mafhum bukan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi paling tinggi kedudukannya, tapi dalam pilihan hidupnya beliau memilih menjadi rakyat biasa yang hidup miskin seperti masyarakat umumnya, padahal pernah ditawari kekayaan emas dua gunung Uhud dan kekuasaan seperti Nabi Sulaiman AS.

Nabi Muhammad SAW adalah perlambang dari manusia sejati yang diwakili oleh tokoh Semar itu sendiri. Untuk memudahkan dialektikanya, Semar menaklukkan 2 raja jin yang dijadikan anak angkatnya, Gareng dan Petruk. Gareng adalah simbol dari filsafat dan Petruk adalah simbol dari intelektual. Sedangkan Bagong adalah anak angkat yang diciptakan dari bayangannya sendiri, dan ia adalah simbol dari kebudayaan. Itulah mengapa filsafat tidak akan berguna jika tidak dirumuskan menjadi ilmu. Dan ilmu tak akan berarti apa-apa jika tidak diwujudkan dalam laku kehidupan yang kita sebut dengan kebudayaan.

Maka, salah satu penggalan kisah Petruk jadi Ratu adalah sindiran kepada orang yang ingin berkuasa tapi cuma mengandalkan pengetahuan/ intelektualnya semata. Jelas akan kacau balau. Pemimpin sejati adalah manusia ideal yang klasifikasinya begawan, dan Semar-lah sejatinya pemimpin di dunia wayang baru yang dibangun para Wali dengan konsep carangan itu. Punakawan adalah manusia yang ilmu dan pemahamannya lebih tinggi dari pada raja dan ksatria yang diabdinya. Dalam kisah mereka terlihat sebagai abdi dalem, padahal hakikatnya mereka guru dan pengayom para raja dan ksatria.

Tapi sayang seribu sayang, para punakawan kini direndahkan dan dihinakan sebagai badut. Di mana-mana pentas, tak lebih mereka menjadi bahan tertawaan, diperankan oleh kebanyakan orang bodoh yang cuma hobi melawak saru dan cuma ngejar honor. Ditonton beribu pasang mata yang kecapekan dan butuh hiburan tanpa berpikir. Begitulah nasib cerita wayang kita. Dan begitu pula nasib kisah sejarah pendahulu kita. Dan begitu pula nasib kisah para nabi yang mulia, berakhir sebagai dongeng.

Dan nasib paling tragisnya, al Quran yang seharusnya menjadi rujukan ilmu dan informasi utama, sebelum yang lain-lainnya, berakhir sebagai bahan untuk melegitimasi nafsu berkuasa dan menakut-nakuti manusia dengan siksa. Demikianlah kejumudan akhir zaman, demikianlah kebodohan pikiran bermaharajalela. Demikianlah. Semoga kita ditolong oleh Allah keluar dari kerusakan yang sedemikian dahsyat ini.

Tamantirto, 18 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.