Saya mulai sering membaca esai-esai mbah Nun secara serius sejak beberapa tahun terakhir ini. Intensitasnya makin memuncak setelah cukup “bingung” melihat pilpres yang mirip komedi hingga saya kadang merasa malu dan geli harus sesekali terbawa eyel2an dengan teman2 di dunia maya.

Sejak tahun 1970-an, bahkan di tahun 1980-an dan paruh awal 1990-an beliau udah nulis aneka rupa esai yang berisi banyak pandangan kritis beliau terhadap cara hidup bangsa ini. Hal-hal yang beliau peringatkan n khawatirkan kala itu lebih banyak dianggap sepi. Dan hari ini bisa dibilang, kekhawatiran lebih dari 2 dekade itu benar2 terjadi mengepung negeri ini.

Jerat kebodohan pola pikir, kehancuran logika, kapitalisme, dan salah fokus telah menjadi pemandangan sehari-hari. Hingga tak pelak melahirkan banyak golongan yang pemikirannya nyeleneh, ekstrim, ada yang suka kekerasan dan ngamukan, ada yang dikit2 mengkafirkan saudaranya sesama muslim, dan masih banyak lagi varian2 yang timbul.

Dalam satu kesempatan di maiyah, beliau sampai bilang, “Orang Indonesia itu saking ampuhe, sembarang hal bisa, tapi tidak ada yang fokus dan dikerjakan sungguh2. Udah gitu cita2nya salah, yaitu mengejar uang n untung, bukan kemuliaan hidup. Akhire kabeh uwong mikire piye sugih mbuh piye carane. Sembarang kepinterane mung diarahke nggo siji kuwi. Akhire dadine kaya saiki.”.

Jadi jelas ya masalahnya. Ini gerakan pemurtadan yang lebih berbahaya, mergane murtade ra krasa, dongane n nyembahe ya dianggep tetep padha. Padahal hakikate wis adoh saka fitrahe.

Surakarta, 9 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.