Sejak tahun 1980-an pesan-pesan simbah ttg perbaikan cara berpikir dianggap sepi. Padahal zaman itu cetha yen ana suara takbir mesthi saka wong Muhammadiyah po NU sing biasane ngadepi kesewenang-wenangane tentara, nek saiki jare padha2 meh gelut mbengoke yo takbir, jare malaikate kewuhan, wong do takbir kabeh.

Tahun 1990-an simbah sudah mengingatkan masuknya kapitalisme dalam praktek-praktek beragama. Guyonan dan aneka metafornya sudah begitu kental sarat peringatan tentang banyak hal. Tapi, lagi-lagi dianggap sepi.

Setelah tahun 2000 memang pesta dimulai. Tidak perlu logika untuk hidup di sini yah. Berpikir, apalagi berdzikir itu kata biasa2 saja yang fasih diucapkan, tapi entah dipraktikkan apa tidak.

Dan hari ini kita saksikan bersama bagaimana dagelan benar2 disajikan secara total. Sejak dari sekolahan, pengajian, hingga pemerintahan, apa sih sing ra guyon. Gek piye njetan? Nangis? Ngguyu? Misuh? Sak karepmu.

Ning, sing gelem ayo do nggremet turut pinggir telaga. Renea. Akeh perkara sing apik. Widodarine yo ana kok, edi kang sinawang, nengsemke ati. Tenang ae.

Surakarta, 5 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.