Hari ini orang-orang mulai terlalu serius baca postingan-postingan online dan broadcast WA yang nganu-nganu.

Kalau pun mau serius, seriusilah setiap broadcast yang berisi tentang penindasan dan orang-orang yang butuh ditolong, segera dikonfirmasi kebenarannya dan lakukan tindakan sesuai kemampuan.

Kalau broadcast yang isinya orang harus membenci yang lain, terus kita mau-maunya ikut-ikutan membenci tanpa alasan dan tanpa melalui proses klarifikasi, jabang bayik, lha thek gelem-gelemen.

Dan kalau ada 2 orang/pihak yang saling berselisih, harusnya kan didudukkan bersama biar mereka menyelesaikan urusannya, nggak perlu buru-buru berkubu ke salah satunya (‪#‎BelajarDariPilpres‬). Kalau mereka bisa damai syukurlah, kalau ga bisa ya mereka suruh gelut saja, kita tonton, sampai salah satu kalah atau mati atau kedua-duanya sepakat untuk berhenti karena sama-sama sakitnya.

Tapi embuhlah saiki, membenci itu kok malah dijadikan syariat baru. Bukankah sebenci-bencinya kita ya bencinya pada hal-hal yang dilarang Allah, bukan pada pelakunya to. Kan dakwah menyasar pelaku agar kita sama-sama bisa menghilangkan hal-hal yang buruk itu. Lha nek pelakunya we wis dibenci pol-polan, njuk kepriye?

Surakarta, 23 Oktober 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.