Menyimak perjalanan haji Buya Hamka dalam pengisahan putranya, Pak Irfan Hamka aku jadi nganu gitu dengan metropolisnya Mekah sekarang (jarene). Soalnya haji itu, menurutku ki puncak dari seluruh aplikasi rukun Islam, yo niate, yo fisike, yo ngelihe, yo pengorbanan hartane, n puncake pokoke siap mati. Betapa istrinya Buya sakit dan harus dirawat. Maka saya berpikir sakit saat haji itu indahnya, makin bikin sabar aja. Kalau diwafatkan di tanah suci, hari Jumat lagi, wow bahagianya. Mati n dikuburkan di Mekah dan Madinah, sapa sing ra pengin rek.

Lha kok sekarang fasilitas modern justru bikin haji itu kayak piknik. Jarene kanca-kancaku sing wis haji lan umrah, jare dalane sai dipasangi blower AC raksasa. Sing ra tahan malah do kademen. Masjidnya makin modern, karena sekelilingnya dilengkapi hotel mewah dan (jarene kancaku meneh) ada mall-mallnya juga. Lho piye to iki? Belum lagi bangunan-bangunan sejarah yang tersisa tinggal yang primer-primer saja, jare mbayangke rekasane jaman kanjeng Nabi biyen ki piye pas dakwah ndek Mekah ki wis angel.

Jadi, apa saya harus merencanakan perjalanan esktrim dengan backpaker? Karena nglumpukke duit ki ya lumayan suwe, dadi dengan backpacker semoga bisa lebih cepat.

Surakarta, 20 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.