{"id":7673,"date":"2014-04-26T23:34:04","date_gmt":"2014-04-26T16:34:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.yuliardika.com\/v1\/?p=7673"},"modified":"2014-04-26T23:34:04","modified_gmt":"2014-04-26T16:34:04","slug":"negeri-tanpa-ayah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah","title":{"rendered":"Negeri Tanpa Ayah"},"content":{"rendered":"<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">By: Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar &#8216;membuat&#8217; anak<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya&#8217;qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH &#8216;kepala sekolah&#8217; tapi AYAH &#8216;penjaga sekolah&#8217;<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi<br \/>\n34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH<\/p>\n<p style=\"color: #141823;text-align: justify\">35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan. Salam bahagia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>By: Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) 1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola 2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar &#8216;membuat&#8217; anak 3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[3322,27,3323,3324],"class_list":["post-7673","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-refleksi","tag-ayah-yang-sesungguhnya","tag-nasihat","tag-nasihat-untuk-ayah","tag-negeri-tanpa-ayah"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Negeri Tanpa Ayah - YuliArdika.Com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Negeri Tanpa Ayah - YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"By: Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) 1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola 2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar &#8216;membuat&#8217; anak 3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/yuliardika\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-04-26T16:34:04+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mas Dika\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mas Dika\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah\"},\"author\":{\"name\":\"Mas Dika\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"headline\":\"Negeri Tanpa Ayah\",\"datePublished\":\"2014-04-26T16:34:04+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah\"},\"wordCount\":624,\"commentCount\":0,\"keywords\":[\"ayah yang sesungguhnya\",\"Nasihat\",\"nasihat untuk ayah\",\"negeri tanpa ayah\"],\"articleSection\":[\"Refleksi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah\",\"name\":\"Negeri Tanpa Ayah - YuliArdika.Com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2014-04-26T16:34:04+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/refleksi\\\/7673\\\/negeri-tanpa-ayah#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Negeri Tanpa Ayah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/\",\"name\":\"YuliArdika.Com\",\"description\":\"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\",\"name\":\"Mas Dika\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mas Dika\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Negeri Tanpa Ayah - YuliArdika.Com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Negeri Tanpa Ayah - YuliArdika.Com","og_description":"By: Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri) 1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola 2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar &#8216;membuat&#8217; anak 3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah","og_site_name":"YuliArdika.Com","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/yuliardika","article_published_time":"2014-04-26T16:34:04+00:00","author":"Mas Dika","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Mas Dika","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah"},"author":{"name":"Mas Dika","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"headline":"Negeri Tanpa Ayah","datePublished":"2014-04-26T16:34:04+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah"},"wordCount":624,"commentCount":0,"keywords":["ayah yang sesungguhnya","Nasihat","nasihat untuk ayah","negeri tanpa ayah"],"articleSection":["Refleksi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah","name":"Negeri Tanpa Ayah - YuliArdika.Com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#website"},"datePublished":"2014-04-26T16:34:04+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/refleksi\/7673\/negeri-tanpa-ayah#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Negeri Tanpa Ayah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#website","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/","name":"YuliArdika.Com","description":"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94","name":"Mas Dika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mas Dika"},"sameAs":["https:\/\/www.yuliardika.com"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7673"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7673"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7673\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7673"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7673"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7673"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}