{"id":6194,"date":"2013-09-21T22:03:15","date_gmt":"2013-09-21T15:03:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.yuliardika.com\/v1\/?p=6194"},"modified":"2013-09-21T22:03:15","modified_gmt":"2013-09-21T15:03:15","slug":"belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3","title":{"rendered":"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><b>Resolusi Kita<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tapi bagaimanapun rusaknya itu, bukankah kita masih yakin bahwa banyak orang baik yang masih ada di negeri ini. Bukankah kita masih punya banyak pemuda yang terus berjuang untuk memperbaiki negeri ini. Bukankah pertolongan Allah masih terbuka untuk kita pinta di setiap shalat dan tangisan kita. Itu resolusi kita yang tertinggi yang harus diikuti dengan komitmen dan tekad untuk menjadi generasi hebat di masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hanya ada dua pilihan untuk menaklukkan para gurita yang mencengkeram ibu pertiwi ini. Menjadi para abdi negara yang tangguh kemudian bertarung di lingkaran setan yang bernama birokrasi atau menjadi para pengusaha yang cinta tanah air dengan segala kemandiriannya sehingga mampu menggerakkan ekonomi rakyat untuk tumbuh bersama melawan arus kapitalisme yang semakin kuat ini. Hanya dua itu menurutku, dua yang sama-sama berat untuk ditempuh. Tetapi lebih baik mati di jalan itu dari pada hidup nyaman menjadi pecundang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dan mari kita tutup dengan lagunya yang berjudul <b>Bangunlah Putra Puteri Ibu Pertiwi<\/b>. Ada sepenggal bait yang membuatku terharu, bahwa<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\">Tadi pagi esok hari atau lusa nanti<br \/>\nGaruda bukan burung perkutut<br \/>\nSang saka bukan sandang pembalut<br \/>\nDan coba kau dengarkan<br \/>\nPancasila itu bukanlah rumus kode buntut<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify\">Itulah seharusnya wajah ibu pertiwi kita. Kita adalah negara besar seperti besarnya Majapahit atau keperkasaan para Sultan dalam menghadapi dominasi para penjahat kolonialisme itu. Kita masih punya pemuda dan para bijak bestari hari ini. Kita masih punya pikiran yang perlu kita jaga agar ia selalu berpikir positif dan menciptakan gebrakan untuk perbaikan bangsa ke depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Apakah kita takut? Jika kita takut, sesungguhnya hari ini menjadi PECUNDANG adalah satu langkah yang paling mudah untuk ditempuh. Akankah? Lebih baik mati saja kita dari pada hidup dengan tanpa rasa malu. Mari berdamai dengan masa lalu, yang lalu biarlah berlalu, dan segera ambil bagian dan peran kita masing-masing. Jika kita telah sadar, maka mari kita putuskan langkah kita setelah ini, ketika masih menjadi mahasiswa dan setelah menjadi mahasiswa nanti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Semoga Indonesiaku kembali perkasa seperti gagahnya burung Garuda yang terbang mengangkasa. Itulah inspirasi hari ini. Maaf aku tidak bisa bercerita banyak selain hanya menjadi penikmat lagu-lagunya Iwan Fals saja.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Resolusi Kita Tapi bagaimanapun rusaknya itu, bukankah kita masih yakin bahwa banyak orang baik yang masih ada di negeri ini. Bukankah kita masih punya banyak pemuda yang terus berjuang untuk memperbaiki negeri ini. Bukankah pertolongan Allah masih terbuka untuk kita pinta di setiap shalat dan tangisan kita. Itu resolusi kita yang tertinggi yang harus diikuti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[231],"tags":[105,2687,2753,2754,2755,2756,2757,2758],"class_list":["post-6194","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-misi-perubahan","tag-berbagi-inspirasi","tag-iwan-fals","tag-iwan-fals-mania","tag-jangan-bicara-iwan-fals","tag-lagu-iwan-fals","tag-mimpi-yang-terbeli","tag-pasar-modern","tag-pasar-tradisional"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3 - YuliArdika.Com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3 - YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Resolusi Kita Tapi bagaimanapun rusaknya itu, bukankah kita masih yakin bahwa banyak orang baik yang masih ada di negeri ini. Bukankah kita masih punya banyak pemuda yang terus berjuang untuk memperbaiki negeri ini. Bukankah pertolongan Allah masih terbuka untuk kita pinta di setiap shalat dan tangisan kita. Itu resolusi kita yang tertinggi yang harus diikuti [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/yuliardika\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2013-09-21T15:03:15+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mas Dika\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mas Dika\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\"},\"author\":{\"name\":\"Mas Dika\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"headline\":\"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3\",\"datePublished\":\"2013-09-21T15:03:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\"},\"wordCount\":350,\"commentCount\":0,\"keywords\":[\"Berbagi Inspirasi\",\"iwan fals\",\"iwan fals mania\",\"jangan bicara iwan fals\",\"lagu iwan fals\",\"mimpi yang terbeli\",\"pasar modern\",\"pasar tradisional\"],\"articleSection\":[\"Misi Perubahan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\",\"name\":\"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3 - YuliArdika.Com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2013-09-21T15:03:15+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/misi-perubahan\\\/6194\\\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/\",\"name\":\"YuliArdika.Com\",\"description\":\"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/arsip\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\",\"name\":\"Mas Dika\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mas Dika\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3 - YuliArdika.Com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3 - YuliArdika.Com","og_description":"Resolusi Kita Tapi bagaimanapun rusaknya itu, bukankah kita masih yakin bahwa banyak orang baik yang masih ada di negeri ini. Bukankah kita masih punya banyak pemuda yang terus berjuang untuk memperbaiki negeri ini. Bukankah pertolongan Allah masih terbuka untuk kita pinta di setiap shalat dan tangisan kita. Itu resolusi kita yang tertinggi yang harus diikuti [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3","og_site_name":"YuliArdika.Com","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/yuliardika","article_published_time":"2013-09-21T15:03:15+00:00","author":"Mas Dika","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Mas Dika","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3"},"author":{"name":"Mas Dika","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"headline":"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3","datePublished":"2013-09-21T15:03:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3"},"wordCount":350,"commentCount":0,"keywords":["Berbagi Inspirasi","iwan fals","iwan fals mania","jangan bicara iwan fals","lagu iwan fals","mimpi yang terbeli","pasar modern","pasar tradisional"],"articleSection":["Misi Perubahan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3","name":"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3 - YuliArdika.Com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#website"},"datePublished":"2013-09-21T15:03:15+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/misi-perubahan\/6194\/belajar-kapitalisme-dan-feodalisme-dari-lagu-lagunya-iwan-fals-3#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #3"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#website","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/","name":"YuliArdika.Com","description":"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94","name":"Mas Dika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mas Dika"},"sameAs":["https:\/\/www.yuliardika.com"]}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p7vwwK-1BU","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6194","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6194"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6194\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6194"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6194"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/arsip\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6194"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}