Ayah yang Tegas Namun Penyayang

Ada satu fragmen kisah yang menceritakan ketika putera keenam yang akan mengikuti kompetisi memenangkan sayembara menjadi pendamping hidup Puteri Chai, keturunan Kaisar. Jenderal Yang sebenarnya sudah melarang sang putera yang terlanjur menyukai sang puteri cantik itu. Dia dan adiknya (putera ketujuh) akhirnya turut hadir di sayembara meskipun belum jelas akan ikut atau tidak. Sang Jenderal sudah mengetahui bahwa sayembara itu tidak fair karena akan memunculkan pemenang dari keluarga Pan, sekutu dinasti Sung yang terkenal licik. Itulah mengapa Jenderal Yang melarang putera-puteranya ikut sayembara itu. Namun kedua kakak beradik itu terlanjur di arena sayembara itu dan meletup emosinya melihat Pan Bao (putera keluarga Pan) yang sombong dan terkesan merendahkan banyak orang. Maka tampilah putera ketujuh melawan putera keluarga Pan itu. Hingga akhirnya Pan Bao melakukan kesalahan sendiri dan terjatuh dengan posisi kepala belakan membentur batas arena lalu meninggal.

Tanpa adanya ungkapan kemarahan dan kata-kata kotor, Jenderal Yang langsung menghukum kedua puteranya sambil menahan sedih. Kelima putera yang lain menyaksikan hukuman cambuk bagi kedua adik mereka dengan menunduk untuk menghormati sang ayah. Sampai akhirnya sang ibu meminta hukuman itu dihentikan. Dan mereka bertiga pun menghadap Kaisar untuk memberikan pembelaan atas tuntutan keluarga Pan.

Konflik pun terjadi di mana keluarga Pan menuntut balas kepada Kaisar untuk menghabisi seluruh keluarga Yang, namun hal itu ditentang oleh Puteri Chai yang memang juga mencintai putera keenam Jenderal Yang. Kaisar pun tidak menganggap penting masalah itu meskipun keluarga Pan berkali-kali memohon. Kaisar tetap tak bergeming dan memilih melakukan kesukaannya di perpustakaan.

Sampai akhirnya muncul tanda peringatan bahwa ada serbuan besar-besaran dari pasukan Khitan yang sepuluh tahun lalu telah dikalahkan oleh Jenderal Yang dengan memenggal kepala panglima mereka, Jenderal Yuan. Kali ini mereka datang kembali dengan serangan besar-besaran lagi, dan barangkali akan membalas dendam kepada Kekaisaran Sung khususnya Jenderal Yang. Maka pada awalnya sang Kaisar langsung memerintahkan Jenderal Yang untuk menjadi panglima tertinggi. Namun, keluarga Pan meminta sebagai kompensasi dirinyalah yang menjadi panglima tertinggi. Kaisar mengabulkan dan menugaskan Jenderal Yang sebagai panglima perang di garis depan.

Di saat menjelang perang, ada hal yang sangat mengesankan bagiku. Jenderal Yang bertanya kepada kedua puteranya yang baru saja dicambuknya, apakah masih terasa sakitnya, sambil menunjukkan rasa sayangnya kepada kedua anaknya itu. Dan ada satu kekhawatiran sang istri akan kepergiannya kali ini mengingat pemimpin pasukan Khitan adalah Yelu Yuan, anak Jenderal Yuan yang ia penggal kepalanya dalam pertempuran yang lalu. Kekuatan dendam yang besar ini menjadi kekhawatiran sang istri mengingat sekutu Dinasti Sung dari keluarga Pan adalah orang yang licik dan saat ini menjadi panglima tertinggi. Namun, semua dijawab dengan tegas oleh sang Jenderal untuk mantap berperang di garis depan.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.