Alhamdulillah, akhirnya terpilih menjad peserta sebuah seminar tentang integrasi IT dalam penyelenggaraan birokrasi setelah katanya panitia diseleksi dari 600an pendaftar. Dan hari ini pula fakultas teknik mulai akan berbenah untuk migrasi dari dunia manual ke dunia digital. Tak tanggung-tanggung, pembicaranya adalah pelaku yang lebih dulu mengintegrasikan IT dalam penyeleggaraan birokrasi, yaitu dekanku dan pembantu dekan I di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Seminar ini menarik karena menurutku ada beberapa poin menarik ketika aku menyimak perjalanan seminar ini.

Pertama, agenda ini diinisiasi oleh dekan fakultas teknik. Sebagai guru besar yang masih terbilang muda, gagasan ini sangat baik untuk menumbuhkan mindset IT, bukan bergaya IT di mana pada jangka panjangnya nanti reformasi ini akan memberikan kemudahana dan kecepatan pelayanan dalam birokrasi fakulta itu. Prof. Kuncoro, demikian nama beliau adalah orang yang visioner dan selalu tertarik dengan ide-ide brilian para mahasiswa. Adikku saja yang memiliki gagasan kompetisi mobil mini saja langsung didanai, apalagi untuk sebuah sistem yang besar seperti ini.

Kedua, pembicara dari seminar ini adalah pelaku yang telah membuktikan bagaimana membangkitkan mindset IT bisa meskipun awalnya sulit luar biasa. Hari ini aku bisa merasakan bagaimana enaknya berbagai pelayanan yang sifatnya aplikasi relatif lebih mudah dari pada di universitas karena semua terintegrasi dengan sistem IT yang memadai. Dimulai dari fkip.uns.ac.id kita dapat menjelajahi banyak informasi di fakultas KIP termasuk agenda para pimpinannya. Jadi untuk ketemuan dengan para pimpinan setidaknya tidak harus ke resepsionis kampus, tetapi cukup melihat dari layar kaca komputer di kos.

Prof. Furqon, dekan kami dan Prof. Sajidan, selaku pembantu dekan I sangat konsen membangun sistem ini mengingat fakultas KIP memiliki jumlah mahasiswa hampir separuh dari seluruh mahasiswa di FKIP. Bayangkan jika legalisir dan pendaftaran wisudanya manual, wow bakalan ada antrian panjang hampir 2000 mahasiswa. Belum lagi ketika penempatan Program Pengalaman Lapangan ke ratusan sekolah di eks-Karesidenan Surakarta. Alhamdulillah semua itu relatif teratasi dengan adanya sistem IT yang kokoh di fakultasku. Maka kedua founder ini terus menerus berbagi kepada para dekan di fakultas lain untuk segera membangun bersama sistem IT di fakultas masing-masing di bawah koordinasi sistem informasi universitas.

Terakhir, seminar ini diikuti dengan antusias oleh semua kalangan mulai dari mahasiswa, dosen, dan karyawan fakultas teknik. Menyimak obrolan beberapa kalangan dosen senior termasuk pertanyaan-pertanyaan mereka bahwa memang selama ini hambatan terbesar dalam mewujudkan IT minded itu adalah penyadaran bersama akan pentingnya optimalisasi IT. Terkadang mahasiswa siap, tetapi dosennya kurang antusias. Terkadang dosennya sudah sangat siap, tetapi mahasiswa terlalu berlebihan dalam FB-an dan bermain game sehingga kurang banyak belajar tentang integrasi sistem IT di dalam dunia pendidikan.

Saat ini, orang-orang kita (mungkin kita) masih terjebak dalam IT style, bagaimana punya piranti teknologi yang bagus, mahal dan serba wah, tetapi pada pemanfaatannya terkadang kurang optimal bahkan terkadang hanya sia-sia untuk SMS-an, BBM-an, FB-an, Twitter-an dll. Tetapi kita tidak bisa menggunakannya sebagai sarana untuk meningkatkan efektivitas aktifitas, produktifitas dan efesiensi waktu kita. Bayangkan jika saat ini semua sistem bisa terintegrasi, alangkah bermanfaatnya waktu-waktu kita untuk kegiatan yang lain. Sudahkah mengalami? Setidaknya 1 bulan di Jerman dengan sistem yang sedemikian teratur membuatku mengerti mengapa orang-orang barat sekarang dalam hal kedisiplinan dan kerja sangat bagus, wong fasilitas IT nya ditunjang dengan mindset IT yang mapan.

Sebagus apa pun fasilitas, tanpa diiringi paradigma dan pola pikir yang sesuai tidak akan menghasilkan sebuah manfaat. Seperti halnya kemuliaan Islam ini, ketika pemeluknya angkuh, keras kepala, dan tidak pernah mau belajar tentangnya, maka fitnah akan terus tersebar dan menjatuhkan kehormatan kaum muslimin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.