Apa menurutmu arti nasionalisme? Hemm, hari ini sering digembar-gemborkan istilah ideologis, baik untuk tujuan komoditas politik dan pencitraan partai atau pun berbagai hal yang sifatnya terus dijejalkan di kalangan bangsa kita khususnya kaum intelektual sebagai lahan subur kaderisasi untuk semua ideologi. Tak terkecuali sebuah kata yang bernama nasionalisme. Maka kemudian sering sekali terdengar ada istilah yang dekat dengan nasionalisme yaitu nasionalis. Maka muncullah istilah kaum nasionalis, partai nasionalis, dan nasionalis-nasionalis.

Jika nasionalisme masih dikaji dalam pelajaran PPKn di kelas, rasa-rasanya hari ini aku pun termasuk orang yang akan tidur pulas. Apalagi jika pengajar-pengajarnya golongan orang-orang yang innocent dan minim peran nyata. Tapi mala mini dan kemudian aku teringat pada beberapa kisah tentang nasionalisme dan nasionalis yang lebih segar untuk dipahami dan diaplikasikan dalam hidup dari pada definisi nasionalisme dan nasionalis yang kerap kali didoktrinkan secara tidak matang kepada para siswa di sekolahan.

Aku salut dengan teman-teman blogger yang tergabung sebagai panitia ASEAN Blogger Conference 2013. Dalam perbincangan mereka sempat kudengarkan bagaimana mereka sebagai localhost berencana menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama selama pelaksanan kegiatan itu di kota Solo. Alasan mereka sederhana, ini Indonesia, apakah internasional itu identik dengan bahasa Inggris. Bukan lagi saatnya kita harus terus ikut-ikutan “terpaksa” berbahasa Inggris. Esensi internasional itu terletak pada substansi dan ruang pembicaraan yang dihelat.

Mereka berpikir lebih baik mempekerjakan para penerjemah agar mereka juga mau mendengar dan mengenal bahasa Indonesia. Tentu hal ini sangat masuk akal diusulkan karena yang diundang adalah para blogger yang terkenal sangat terbuka pemikirannya dan cenderung suka dengan tantangan. Aku terkesan dengan sikap mereka untuk tetap bertahan pada zona yang ini “tidak biasa” dan mungkin akan membuat orang yang terbiasa cas cis cus berbahasa Inggris merasa aneh. Tapi inilah sebuah peluang, memasyarakatkan bahasa Indonesia.

Kemudian aku teringat dengan salah satu cita-cita calon penerima beasiswa aktivis, seperti yang diceritakan salah satu penyeleksinya, mas Romy. Katanya ada yang bercita-cita menjadi warga negara Jerman. Loh, kok malah punya cita-cita seperti ini? Wah pengkhianat dong. Sekilas yang tidak banyak memahami realita hari ini (atau mungkin jika yang baca ini orang yang fanatik) pasti akan terbelalak dan marah-marah. Tapi tidak bagiku.

Aku pun pernah berdiskusi dengan salah satu rekan di UI tentang diaspora Indonesia. Hari ini kalau mau jujur, diaspora Indonesia yang telah tersebar di berbagai belahan dunia ini menanti-nantikan sebuah momentum agar terjalin kembali hubungan yang selama ini terputus karena adanya pandangan picik terkait nasionalisme. Nasionalisme itu soal hati dan semangat, bukan masalah label atau sekedar teriakan-teriakan omong kosong.

Cita-cita adik tadi sangat masuk akal, karena ia ingin menjadi orang yang memiliki peran untuk banyak memberikan akses kepada orang-orang Indonesia di sana. Jika ia dapat menjadi professor di sebuah universitas (dan itu berarti mereka juga sekaligus sebagai WN Jerman agar mendapatkan hak-hak sebagaimana yang lainnya), maka dia dapat mengatur kuota yang lebih besar untuk generasi-generasi bangs yang memang potensial.

Tentang nasionalisme ada banyak hal yang penting untuk kita pahami. Bagi yang hari ini masih asyik masyuk dengan boyband dan girlband, ingat itu milik siapa. Mendengarkan dan berlatih bahasa Korea sampai bisa itu hal biasa dan mungkin wajib jika kita ingin banyak bergelut di bidang per-Korea-an. Tetapi nge-fans secara gila dan ikut-ikutan menjadi seperti mereka dengan melupakan identitas kita, maka itulah awal kerusakan bangsa ini dan tercerabutnya akar kebangsaan kita. Indonesia sebentar lagi akan menjadi lapak untuk jualan yang sangat laris, terutama untuk konsumen di kalangan remaja. Remaja kosong yang tidak memiliki visi besar untuk bangsanya. Yang kerjaannya nongkrong sama party.

Mungkin baru muda-mudi Indonesia versi sekarang yang tingkahnya sangat tidak karuan. Gadget dibuat untuk pamer petentang-petenteng di depan ceweknya. Kalau di Eropa dan negara-negara maju, hal itu memang penting sebagai sarana pendukung aktivitas hidup. Tapi di sini, paling cuma FB-an (yang untung Mark Zuckerberg), twitteran, atau nge-game dengan game-game asing yang itu otomatis memicu peningkatan angka konsumsi negeri ini. Kalau sedang berpasangan, tingkahnya bahkan ada yang lebih menjijikkan dari orang-orang barat yang menjadi asal budayanya.

Aku percaya, sesuatu itu baik ketika pada tempatnya. Kita orang timur, lahir dan hadir dengan budaya ketimuran kita yang memang berbeda dengan barat. Berbaur dan menembus dunia internasional itu bukan berarti membenarkan diri kita mengubah nilai ketimuran kita yang sudah ditanamkan para pendahulu kita. Kita tetap bisa akrab dan saling bertoleransi dengan siapa pun, tapi bukan berarti kita mengalir seperti arus ke mana pun ia pergi. Kita punya kearifan lokal yang dapat kita kelola untuk menjadi ciri khas bangsa kita.

Mengutip dan mengulas orasi Uda Yusuf di sebuah pertemuan dengan para pejabat KBRI di Belanda, beliau mengatakan bahwa sudah bukan saatnya lagi kita terlena dengan bahasan-bahasan tentang demokrasi dan berbagai teori perpolitikan dan kepemimpinan buku. Kita bisa berbicara demokrasi, tapi apakah demokrasi kita harus seperti Amerika, bukankah setiap wilayah kita memiliki kearifan lokal dalam pelaksanaan demokrasi. Kita punya banyak nilai luhur yang hari ini mulai dikikis akibat banyaknya orang yang kehilangan nasionalismenya. Nasionalisme itu bukan tentang apakah kita mengaku cinta Indonesia atau tidak. Nasionalisme itu adalah tentang apa yang telah kita pikirkan, rencanakan, telah, sedang, dan akan kita lakukan untuk kemaslahatan bangsa, dengan cara yang terbaik, bagaimanapun bentuknya.

2 Comments

  1. helmirianf

    Nasionalisme itu bukan normatif. Sederhana memulainya, dari yang kita pikirkan saja. Kalau meurut kita nasionalisme adalah pakai produk dalam negeri, mulai sekarang beli dan pakai produk dalam negeri. Kalau nasionalisme menurut kita adalah berbahasa indonesia dengan baik dan benar, mulai sekarang belajarlah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Memang nasionalisme tak bisa diartikan secara sempit, tapi bisa diartikan dan dilaksanakan secara sederhana. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.