Sore ini adalah diskusi yang spesial. Tidak seperti biasanya yang datang hanya bersembilan (kalau lengkap), yaitu satu orang senior dengan delapan aktivis (katanya, dan semoga benar) untuk mendiskusikan berbagai hal yang bermanfaat dalam membangun visi hidup ke depan.

Sore ini kami kedatangan seorang penting yang memiliki peran besar dalam menyatukan tim sembilan ini. Siapa lagi kalau bukan supervisor kegiatan aktivis beastudi Indonesia. Beliau adalah mas Edi, yang sering kami sebut sebagai gudangnya dana aktivis di mana ketika kami membutuhkan support untuk kegiatan kami harus menghubungi beliau.

Singkat cerita, kami sore ini mendiskusikan persiapan untuk temu nasional aktivis yang akan di laksanakan di kota kami. Sebuah kehormatan karena kami dapat menjadi bagian dari sejarah untuk menorehkan inspirasi beasiswa aktivis nusantara di tahun ketiga ini. Maka sore ini aku sangat antusias untuk mengikuti diskusi yang penting. Aku bersyukur dikaruniai 7 orang teman yang beragam dan sangat unik, dengan satu fasilitator keren yang dulu tanpa sengaja kukenali waktu aku masih unyu-unyu. Dari merekalah aku banyak belajar untuk menorehkan karya bersama dan menyatukan berbagai kepentingan kami.

Esensinya adalah bahwa dalam kegiatan beasiswa aktivis ini, sesungguhnya kami diuji dengan konsistensi untuk tetap menjadi tim meskipun masing-masing kami dipersepsikan oleh public sebagai orang-orang sibuk dan penting. Benarlah kata Pak Erie dan Pak Romy, orang-orang hebat secara pribadi itu tidak selalu berhasil membuahkan karya besar yang bermanfaat bagi orang lain. Yah itulah yang sedang dialami bangsa ini, ketika banyaknya orang-orang cerdas dan hebat namun tidak memberi dampak pada semakin baiknya kepemimpinan negeri ini. Ketidaksinergian dan saling menjatuhkan satu sama lain lebih menjadi warna karena kabut ambisi yang terlalu tebal menutupi setiap jiwa para pemimpin.

Organisasi itu membutuhkan kepemimpinan yang mengayomi dan loyalitas utuh dari orang-orang yang dipimpin. Loyalitas terancam retak ketika pemimpin tidak bisa mengayomi dan mendengarkan orang-orang yang dipimpinnya. Namun demikian, loyalitas juga tidak akan hadir sepenuhnya dari pemimpin yang paling baik sekalipun jika orang orang-orang yang dipimpin tidak jauh beda dengan Bani Israel atau sengkuni. Singkat cerita, refleksiku malam ini terlalu jauh untuk mengungkapkan bahwa kita hari ini sedang belajar untuk menjadi pemimpin. Entah sampai kapan akan purna kepemimpinan kita, mungkin tepatnya adalah ketika kita telah dibaringkan menghadap kiblat di sebuah lubang kecil atau kemudian kita tertembak dan tersayat ketika saat itu kita tengah berjuang melawan penindasan dan ketidakadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.