Hemm, hal yang kutakuti adalah sering diundang untuk menjadi pembicara. Mengapa? Karena berbicara itu menuntut tanggung jawab. Apa yang disampaikan dan apa yang dijelaskan sudah seharusnya di persiapkan dan dibuktikan. Berbicara teori saja, pasti kosong dan jauh dari harapan. Berbicara pengalaman terkadang jadi ria jika tak terkelola. Hemm, bingung deh. Tapi bagaimana pun, kita pasti akan mantap berbicara saat kita telah memiliki pengalaman yang cukup dari apa yang akan kita sampaikan.

Ceritanya pagi ini aku diminta mengisi materi pengabdian masyarakat kepada adik-adik BEM FE dalam School of Leadership. Hemm, pengabdian masyarakat, jadi bingung aku. Pengalaman belum seberapa juga. Tapi bismillah, cobalah. Semoga bisa memberi inspirasi. Materi dimulai dengan pertanyaan. Biasalah gaya guru yang ketularan dosen atau profesor (kecuali dosen dan profesor aneh). Apakah mahasiswa itu? Para peserta menjawab macam-macam, akhirnya disimpulkan bahwa mahasiswa itu adalah agen perubahan. Kemudian apakah perguruan tinggi itu? Banyak jawaban juga, dengan sedikit diarahkan ketemulah kesimpulan bahwa perguruan tinggi itu adalah miniatur kecil Indonesia. Dampaknya adalah jika kita ingin melihat nasib bangsa Indonesia ke depan, lihat kualitas kehidupan masyarakat kampus2 kita hari ini. Yang terakhir adalah apakah belajar itu? Jawabannya macem-macem lagi. Intinya belajar itu adalah sebuah proses untuk berubah dari kondisi yang tidak ideal menjadi lebih ideal. Kepahaman kita akan ketiga hal itu akan menentukan kiprah kita sebagai mahasiswa. Makin paham dan yakin, insya Allah makin besar tekad kita untuk mewujudkan visi perubahan.

Tantangan berat yang dialami setiap mahasiswa adalah melawan egoisme diri. Yang nulis ini merasakan bagaimana beratnya melawan sifat egois dalam diri pribadi. Ketika kita bisa sedikit lepas dari sifat ini, maka kita akan mengerti realita. Dan saat itulah kepekaan kita akan terasah untuk mengembalikan realita masyarakat yang terlanjur parah ini menuju tataran ideal sejauh yang mampu kita lakukan. Dari sinilah pengabdian masyarakat baru akan dimulai dengan sesungguhnya. Sehingga mahasiswa tidak lagi tertipu dengan berbagai aktivitas selebrasi dan berbagai statetamen pengabdian masyarakat. Jika memang benar-benar ingin mengabdi maka kita pasti akan berpikir bagaimana masyarakat harus menjadi lebih baik. Dan tentunya kita sendiri harus baik lebih dahulu.

Bagaimana mengabdi? Sudah terlalu banyak contoh pengabdian di sekitar kita. Kita tinggal memilih cara mana yang paling mungkin dan paling tepat untuk kita wujudkan sesuai dengan kemampuan kita. Ada Indonesia mengajar, ada Indonesia berkebun, ada komunitas2 kemanusiaan lainnya, komunitas2 pemberdayaan ekonomi, itu adalah contoh2 pengabdian masyarakat dalam skala besar. Kita bisa mengambil inspirasinya. Yang terpenting sebesar apakah tekad kita. Itu yang lebih penting.

Akhirnya, lakukan apa yang kita pikirkan. Pikirkan apa yang telah kita lakukan. Perbaiki …. Perbaiki …. Terus mengabdi tanpa henti. Karena hidup adalah dedikasi. Mencipta sejarah dan menebar inspirasi. Apa yang telah kulakukan? Aku telah melakukan pengabdian sejauh yang mampu kulakukan hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.