Tadi siang aku sempat membuat tulisan di sebuah grup. Dan aku merevaluasi sebuah kata yang sering dipakai anak-anak muda. Ceritanya adalah tentang nasib aktivis-aktivis yang nge-JOMBLO sampai hari ini. Kenapa JOMBLO? Ha ha ha. Yang sudah berpikir aneh-aneh dan berharap aku menulis tentang seorang cowok atau cewek yang ga punya pacar, segera ditutup saja tab tentang postingan ini atau segera beralih saja pada bacaan lain, karena Anda dijamin tidak mendapatkannya.

Tentang aktivis yang men-JOMBLO, aku ingin memulai dengan sebuah kata kunci bahwa aku adalah penulis postingan ini sehingga aku berhak untuk melakukan revaluasi atas makna JOMBLO sesuai dengan konteks tulisan ini. Hari ini, sering kita jumpai berbagai lembaga sepi ditinggalkan oleh para generasinya atau dilanjutkan oleh generasinya yang tidak sekuat dan segagah pendahulunya. Bahkan terkadang kata salah satu adikku, lembaga sekarang kehilangan wibawanya sehingga harus mengemis kader-kadernya di pinggir jalan-jalan perjuangan.

Maka kemudian aku sempat berpikir bahwa ada faktor-faktor yang menjadikan lembaga kehilangan wibawanya (baca: kehilangan para penerusnya). Jika dirunut dari salah satu faktornya adalah karena para aktivisnya men-JOMBLO. Ha ha ha, apa definisinya? Menurut gagasanku yang semakin ngacau ini, JOMBLO di sini berarti para aktivis yang saat ini tengah menjadi pemegang kendali itu tidak memiliki partner sharing dan partner diskusi yang usianya lebih muda darinya atau yang posisinya lebih junior darinya. Dia lebih menikmati masa JOMBLO-nya dengan membuat berbagai hal yang gagah dan indah di mata khalayak. Sehingga waktunya pergantian semua hanya disulap seakan-akan ada penerusnya dan seakan-akan siap melanjutkan gagasan besarnya. Yah, dia terlalu asyik menjaga imagenya dengan menjadi JOMBLO sejati.

Maka ber”pacaran” dengan adik-adik itu sangat penting dalam konteks pembicaraan keberlanjutan visi organisasi. Adalah sangat tidak masuk akal kita berharap ada generasi penerus yang mumpuni tapi mereka hanya di minta untuk datang, ikut dan mendengar kata-kata kita, tanpa di beri luapan api semangat dan kesempatan untuk mencobai berbagai derita organisasi. Mereka dikekang dengan ketakutan untuk bereksperimen tentang masa depan mereka sejak hari ini. Dan kakak-kakak yang hari ini masih men-JOMBLO biasanya tidak punya “pengikut” yang dapat memetik inspirasi darinya. Padahal sang kakak itu keren dan pemikirannya juga luar biasa. Tetapi status ke-JOMBLO-annya membuat mereka terpisah seperti langit dengan sumur. Adik-adik itu dekat, mengapa kita harus menjadi JOMBLO, mereka butuh ditemani, dipandu dan diarahkan visinya agar kelak menjadi sinergis antara mimpi kita dengan mimpi mereka untuk lembaga yang tengah dikelola bersama.

Jadi, bagi aktivis yang hari ini masih men-JOMBLO, yuk segera gebet adik-adik yang sefrekuensi dengan kita untuk dapat menyerap energi mimpi dan semangat kita sehingga ketersambungan perjuangan itu tidak pernah padam dan senantiasa ada. Kata orang yang hobi pacaran aja, men-JOMBLO itu rasanya menderita, apa lagi bagi kita para pejuang dan perindu syurga, apakah bisa menikmati derita kesendirian ditengah bayang-bayang investasi generasi yang sangat menjanjikan keuntungannya dunia dan akhirat. Bagilah mimpi kita, tebarlah inspirasi dan ciptakan generasi pejuang. Stop men-JOMBLO dan sandingkan adik-adik kita di panggung perjuangan sejak sekarang.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.