Sebuah Tanggung Jawab

Ada sebuah tekad yang selalu ku ingat dari seorang sahabatku di organisasi ini. “Bagaimana pun nanti, yang berhak memimpin organisasi ini adalah adik-adik kita sendiri”. Baik buruknya mereka jangan kemudian menjadikan kita melakukan campur tangan ngawur untuk mendiskualifikasi mereka. Buruknya mereka itu karena memang kita tidak bisa mendidik mereka dengan baik sewaktu kita menjadi pengurus, jadi kitalah yang harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya bukan comot sana comot sini dengan segudang alasan yang dipaksakan. Bagaimana pun, anak sendiri itu lebih berhak mewarisi dari pada anak orang lain.

Maka dari itu pada hari ini kami memulai sebuah ikhtiar kecil untuk membuat anak-anak (baca: adik-adik) kami semakin siap untuk menyambut kepemimpinan yang akan datang. Sebuah agenda camp khusus untuk angkatan 2010 yang ke depan akan menjadi garda terdepan SIM dalam membangun keilmiahan di UNS. Di sebuah desa yang terletak di kaki Gununggambar, maka proses pembinaan pertama ini telah dimulai.

Berawal dari gagasan yang terlontar saat diskusi PH rutin, maka muncullah ide untuk “mengasingkan” mereka agar lebih menyatu dan menemukan komunikasi yang baik antara satu dan yang lain. Dan pada Jumat malam, akhirnya berangkatlah mereka dari sekre yang mungil itu ke sebuah desa yang sangat asri dan damai. Sengaja datang malam hari agar mereka tidak mengenali jalan berangkatnya (lebay tenan) sehingga tidak akan mungkin melarikan diri pada waktu paginya. Sesampai di sana mereka langsung beristirahat untuk menyiapkan diri mengikuti agenda esok hari.

Mengenal dan Berdiskusi

Pagi hari pun tiba, kami berjalan menyusuri jalan pinggir dusun menuju sebuah tempat Gunungan Kulon. Tempat yang telah direncanakan untuk menggembleng mereka. Setelah berjalan jauh sampai sandalnya berlapis tanah tebal sehabis hujan. “Ngethel” dan “nggedibel” rasanya, sampai yang putri-putri pada teriak kecapekan. Ha ha ha, tidak apa-apa, tes kecil untuk mereka.

Setelah membersihkan sandal dan foto-foto, akhirnya agenda pun dimulai. Tema pembinaan pertama adalah menanamkan semangat ukhuwah agar saling mengenal dan saling dekat satu sama lain. Aku ingin ketawa lihat mereka ditutup matanya mulai dengan slayer hingga dengan sarung. Di suru baris ke sana ke mari ditanyai satu persatu agar menjelaskan kondisi teman-temannya yang lain dan mengenal tentang lembaganya selama ini. Bagi yang tidak bisa menjawab akhirnya diguyur dengan air yang sedikit kotor hasil tadah hujan di bebatuan bukit itu. Semoga menjadi pelajaran penting yang akan selalu mereka ingat bahwa mengenal sahabat itu sangat penting, tak hanya sekedar mengenal nama, tetapi juga mengenal yang lebih besar dari itu sehingga tumbuh rasa persaudaraan yang kokoh.

Bagi kami, moment pagi hari ini menjadi penampar pipi kanan kiri hingga penonjok perut melihat mereka yang ternyata banyak yang belum saling kenal dengan benar. Ah, setahun ini ngapain aja aku, hingga perkara kecil ini ternyata justru terabaikan. Semoga ikhtiar kecil ini menjadi bukti taubat kami agar ke depan menghasilkan generasi yang lebih baik dan lebih solid.

Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan foto-foto bersama. Tidak perlu diceritakan lebih lanjut bagaimana parahnya kami dan anak-anak. Itu sudah pasti dan sangat jelas. Jadi cukup sekian kisah di Gunungan Kulon dan kami pulang.

Setelah sarapan pagi dan bersih-bersih badan, kami mandi dan persiapan untuk FGD. FGD kali ini adalah membahas sekian masalah yang berkaitan dengan organisasi yang telah kami susun permasalahannya pada waktu malam ketika anak-anak telah tidur. Kami menyusun tujuh soal yang sebenarnya terdiri atas sepuluh permasalahan. Tentang lembaga, konsolidasi, hingga permasalahan internal kami sajikan lengkap untuk mereka kupas secara tuntas.

FGD pun dimulai, anak-anak kami bagi dalam 3 kelompok yang bernama Studi, Ilmiah, Mahasiswa persis seperti singkatannya SIM. Mereka kemudian saling berdiskusi secara intensif untuk mengupas tuntas segala permasalahan yang disajikan dan menyiapkan jawaban terbaik sebagai calon-calon generasi SIM yang siap meneruskan amanah ke depan. Lima belas menit berlalu, ternyata belum selesai, tambah lagi, dan tambah lagi akhirnya selesai. Tiba waktunya untuk dipresentasikan.

Aku kagum dengan kemampuan mereka beretorika dan presentasi. Ternyata selama ini mereka hanya butuh tempat dan kondisi terbaik agar dapat tampil prima. Berbagai masalah mulai dari kesolidan lembaga dan permasalahan internal dapat mereka kaji dan mereka presentasikan dengan baik. Inilah potensi besar mereka, tinggal butuh penjagaan dan penumbuhan komitmen. Yah, organisasi itu pasti selalu ditopang dengan dua kekuatan pokok, diskusi yang fokus dan keberanian bertindak. Dua hal ini akan mencakup segala nilai yang baik mulai dari tanggung jawab, rasa kebersamaan, integritas dan sebagainya. Jika dua hal itu mati, pasti matilah gerak organisasi itu. Adanya sama seperti tiadanya.

Dan tahukah? FGD dan presentasi ini ternyata berakhir sampai malam, padahal dimulainya sejak sebelum dzuhur dengan antusiasme peserta tinggi. Mereka sangat bersemangat dan tidak ada yang mengantuk.

(bersambung ….)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.