Pemaafan yang Agung

Lanjut pada kisah Yusuf ya. Selama di penjara ternyata Yusuf bertemu dengan dua orang pelayan raja. Yang satu pelayan minuman, yang lainnya pelayan makanan. Keduanya bermimpi sesuatu yang aneh. Maka di sinilah Yusuf mulai menunjukkan kepandaiannya dalam membangun komunikasi. Mukjizat yang diberikan oleh Allah berupa kemampuan menakwil mimpi dijadikannya sebagai sarana untuk menolong kedua temannya ini sekaligus menjelaskan dirinya bahwa dia tidak bersalah.

Namanya mukjizat, ya pasti takwil Yusuf terbukti benar. Sang pelayan minuman dibebaskan, sedangkan sang pelayan makanan dieksekusi. Malang bagi Yusuf, ternyata sang pelayan minuman lupa dengan pesan Yusuf untuk mengadukan kepada raja bahwa ia tidak bersalah (dalam ayat 42 dikatakan syaitan telah menjadikan sang pelayan ini lupa, lebih detail silahkan lihat tafsirnya apa maksud “syaitan ini menjadikannya lupa“ pada berbagai kitab tafsir yang ada). Hingga akhirnya Yusuf justru dipenjara dalam waktu yang lama. Padahal kalau dalam realita modern para napi itu mengalami remisi, yang ini malah terus diperpanjang sampai beberapa tahun.

Akhirnya Allah membebaskan nabi Yusuf lewat mimpi sang Raja Mesir yang membuat para dukun seluruh negeri menyerah dan tidak bisa menakwilkan mimpi itu. Sang pelayan pun teringat dan melaporkan pada raja. Dan inilah babak baru Yusuf, sebagai tahanan tanpa salah dibebaskan dengan hormat karena berhasil menakwilkan mimpi Raja dengan sempurna. Bagiamana tidak? Komplotan ibu-ibu dan Zulaikha akhirnya bertekuk lutut dan mengakui bahwa merekalah yang bersalah (ayat 51)

Maka raja pun mengangkatnya sebagai bendaharawan negeri Mesir (atas permintaan Yusuf dalam ayat 55). Di sini ada ibrah bahwa jika seorang itu memang yakin memiliki kompetensi pada bidang tertentu sebaiknya dia menyatakan dengan sungguh-sungguh keinginannya dan menunjukkan dedikasinya untuk menjadi solusi atas permasalahan yang ada. Bukan semata-mata ingin meraih jabatan, tetapi jabatan itu sarana dia untuk menuntaskan permasalahan yang memang telah menjadi konsentrasinya.

Ketika musim paceklik terjadi dan Mesir menjadi negeri rujukan untuk sumber pangan, maka saudara-saudara Yusuf pun berdatangan ke sana. Mereka datang meminta bantuan makanan, maka Yusuf membantunya. Mereka sudah tidak mengenal Yusuf, namun Yusuf masih mengenal mereka. Karena Yusuf benar-benar rindu pada saudara kandungnya, Bunyamin, maka beliau meminta mereka ketika datang dikesempatan berikutnya untuk membawa saudara mereka yang paling kecil, atau mereka tidak akan diberi bantuan makanan. Ini sangat manusiawi bagi beliau yang sudah bertahun-tahun berpisah dengan satu saudara kandungnya seayah-seibu, sedangkan saudara-saudara yang lain adalah saudara seayah saja.

Maka Yusuf pun melakukan rekayasa kecil untuk bisa menahan Bunyamin agar tetap tinggal di Mesir. Di sinilah terlihat memang dasar saudara-saudara Yusuf itu orang yang tidak bisa menjaga aib saudaranya. Ketika Bunyamin tertuduh mencuri piala emas, maka saudara-saudaranya justru berkata (dalam ayat 77), “jika memang dia (Bunyamin) mencuri, maka sesungguhnya saudaranya (Yusuf) dulu juga pencuri“. Di sinilah al-hilmu itu muncul dan alangkah indahnya nabi Yusuf meredam kemarahan dalam hatinya dengan kesabaran (Allah menceritakan kejengkelan Yusuf dalam hati di ayat yang sama). Apakah tidak bisa nabi Yusuf membalas perlakuan buruk saudara-saudaranya ini saat itu juga? Sangat bisa. Secara dia adalah menteri yang berkuasa dengan anak buah yang tinggal menunggu perintahnya.

Demikianlah sikap indah Yusuf ini membuat saudara-saudaranya ini terus merengek meminta Bunyamin dikembalikan. Ketika Yusuf bertanya pada mereka apakah mereka masih ingat dengan Yusuf yang mereka buang sekian tahun silam, mereka terkejut kemudian bertanya, apakah pembesar yang dihadapan mereka adalah Yusuf. Dan tentu saja Yusuf mengiyakan, mereka ketakutan dan pasrah, mengakui konspirasi yang telah mereka simpan selama bertahun-tahun itu.

Kira-kira kita seperti apa ya ketika menjadi seperti Yusuf? Sangat mudah seandainya saat itu bilang kepada pengawal untuk memenggal kepala mereka semua, menyiksa atau memenjarakan mereka di tempat yang paling buruk sekalipun. Tapi inilah Yusuf, sang pemilik permata kesabaran itu. Pemegang al-hilmu yang lebih memilih perbuatan yang mulia daripada hal yang benar. Karena membalas keburukan orang dengan hukuman yang setimpal itu kan dibenarkan, tetapi memaafkan itu bukankah itu lebih mulia, lebih agung dan lebih mengagumkan. Dan inilah yang dipilih oleh nabi Yusuf.

Tahukah kalimat pemaafan beliau, mari simak ayat 92. Dan Yusuf berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dialah yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Luar biasa bukan, memaafkan sekaligus mendoakan kebaikan. Inilah sahabat, permata yang membuat mataku berkaca-kaca hari ini. Permata kesabaran untuk menahan amarah dan kemurkaan meskipun kondisinya memungkinkan dan dibenarkan. Memilih sikap yang mulia adalah pilihan terbaik bagi para perindu syurga.

Epilog

Tentang ketegaran dan kesabaran Yusuf, ada resep yang sangat mujarab di ayat 38, yakni  tetap pada keyakinan yang lurus (aqidah yang benar) diikuti dengan konsistensi beramal dengan amalan yang ittiba. Inilah yang membuat Allah selalu menjaganya dengan penjagaan yang terbaik sebagai buah kerja kerasnya dalam menjaga permata keimanan itu.

Untuk sahabatku yang sempat kena bara apiku, maafkan aku, semoga kesabaran ini terus menghiasi hari-hariku berikutnya. Terima kasih Allah kau hadiahkan al-Quran untukku sebagai sumber inspirasi yang tidak akan pernah ada habisnya. Karena di dalamnya tersimpan mutiara dan segala hal yang terbaik dalam hidup. Terima kasih Allah atas hikmah hari ini. Kata Habiburraham el-Shirazy, novel terbaik sepanjang sejarah adalah kisah Surah Yusuf ini, senada seperti yang Allah sampaikan sendiri di ayat 3 sebagai sebaik-baik kisah. Dan hari ini ia (Surah Yusuf) menyadarkan kami agar tetap tegar dan sabar di jalan dakwah ini.

Aku mungkin tak bisa mengganti watak kerasku ini, tetapi aku bisa mengubah cara berkomunikasi dan cara menyikapi hidup ini dengan lebih baik. Semoga siapa pun yang pernah bertemu hingga yang menjadi temanku sehari-hari bisa mengerti dengan keadaanku hari ini. Dan semoga aku bisa mengerti keadaan kalian semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.