Malam ini, Allah memperjalankanku menyusuri jalan-jalan lereng gunung Lawu. Sebuah undangan untuk berbagi kepada adik-adik mengantarkanku sampai pada sebuah masjid di kawasan kebun teh di daerah kemuning. Dan di dalam masjid itu, sekumpulan adik-adik yang masih segar siap untuk mendengarkan berbagai materi yang berkaitan dengan dakwah. Inilah sekilas materi yang kusampaikan.

Menjadi mahasiswa adalah sebuah keberuntungan yang besar dari Allah. Mengapa? Dari sekian banyak orang yang mendaftar ternyata hanya kitalah yang mendapatkan kesempatan untuk studi di sebuah universitas negeri. Luar biasa bukan. Tapi apa yang terkadang kita lakukan? Bermalas-malasan, tiduran waktu kuliah, berduaan  dan menghabiskan waktu untuk romantisme yang belum dihalalkan, atau malah berkumpul dengan komunitas-komunitas yang mengerjakan hal negatif seperti mengkonsumsi narkoba dan miras. Padahal sesiapa yang tidak sibuk dalam kebaikan, pasti dia akan disibukkan dalam kemaksiatan. Memang hidup ini hanya mengenal 2 tempat, kebaikan atau keburukan. Maka dalam hal yang subhat pun itu lebih baik ditinggalkan, itu artinya lebih dekat dengan yang haram.

Ada beberapa tipe mahasiswa yang sudah cukup intelek. Pertama dia bisa berpikir tentang lingkungannya tapi hanya berhenti pada diskusi dan kritik. Yah ujungnya retorika saja. Ada lagi yang tidak hanya sampai diskusi dan kritik, tetapi sudah sampai pada aksi nyata. Golongan ini jauh lebih baik dari yang pertama. Yang paling keren adalah yang telah beraksi kemudian mau berbagi sehingga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Pilih mana? Pikirkan sendiri.

Lantas bagaimana sebaiknya kita? Luruskan visi hidup kita. Untuk siapa? Untuk apa? Untuk Allah lah kita hidup. Untuk perjuangan dakwahlah kita hidup. Jika setiap saat visi itu terhembus dari setiap desah nafas kita, maka pastilah kita akan selalu tegas dalam melangkah. Kemudian adalah memasyarakatkan belajar. Hal yang menjadi masalah besar hari ini adalah mahasiswa yang salah dalam belajar dan tidak biasa belajar. Belajar menjadi sempit artinya dan akhirnya mahasiswa tidak mampu mencapai perbuatan belajar yang sebenarnya. Belajar adalah kewajiban, terlebih kepada para aktivis dakwah. Bagaimana bisa berdakwah jika sesuatu yang didakwahkannya saja tidak dipahami. Maka tak mengherankan jika terkadang dirasakan dakwah kampus menjadi garing, karena para pengusungnya tidak mengayakan dirinya dengan ilmu dan tidak mengasah pemahaman agamanya dengan baik.

Belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara. Baca buku, diskusi, silaturahim, tadabbur alam dan masih buanyak lagi. Dengan demikian kita akan mendapatkan inspirasi. Inspirasi itulah yang akan membangkitkan tekad dalam diri kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi dakwah. Maka wujudkan itu semua dalam lembaga dakwah kampus, baik univ maupun yang lebih bawah.

Lembaga dakwah kampus tidak seharusnya kita pahami secara sempit. Terkadang orang-orang umum memandang lembaga ini eksklusif. Sehingga yang merasa dirinya “berdosa” jadi tidak tertarik lagi. Padahal dakwah itu adalah jalan cinta. Jalan yang akan mengarahkan kita pada Islam. Maka sudah saatnya para pengusung dakwah kampus itu melabur baju ekslusivitasnya dengan kerja nyata yang terbukti menjadi solusi bagi sekitarnya. Jika dakwah hanya sempit dipahami sebagai gambaran orang yang mengaji di masjid, maka orang-orang yang tidak mau ke masjid tidak akan tersentuh dakwah. Jika dakwah dipersepsi hanya untuk orang-orang yang sudah berjilbab besar atau berjenggot panjang dan bercelana di atas lutut, maka orang-orang yang hari ini masih pacaran dan suka berdugem ria jadi tidak mengerti akan nilai-nilai Islam. Jadi dakwah itu adalah menyeru kebaikan kepada kawan-kawan kita agar mengerti inti dari kebaikan itu. Selanjutnya kehendak Allah apakah hendak menurunkah hidayah atau bukan.

Jadi apa yang penting? Yang penting kita mencintai dakwah ini. Sehingga kita tetap konsisten untuk memperbaiki diri. Kita tetap membawa kebaikan di mana pun amanah kita, sekalipun tidak lagi di LDK. Cintai dakwah sebagai bentuk perwujudan nyata cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya. Semangat berdakwah! Dakwah yukk!!!

Wallahu ‘alam bishshawwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.