Bibit Unggul di Padang Gersang

Siang ini kami kembali mengisi les. Lagi-lagi ironi pun harus kunikmati ketika mengajar matematika anak-anak kelas VI. Bayangkan saja, anak-anak yang dalam hitungan beberapa bulan ke depan akan mengikuti ujian nasional ternyata operasi hitung dasar pecahan yang merupakan materi kelas IV belum dikuasainya. Bahkan menurut Mustopa yang mengajar mereka di hari sebelumnya, mereka masih belum mengerti maksud pembilang dan penyebut dalam pecahan. Ada yang masih kebalik-balik menyebutkannya. Wow banget kan, tapi inilah kenyataan yang sudah umum di tempat ini. Bukan untuk dirutuki, tapi perlu dibangkitkan motivasi pribadi anak-anak untuk mandiri dan lebih giat belajar lagi meskipun guru-gurunya sering menikmati pesta libur atau pesta yang lainnya.

Selanjutnya ini adalah hari terakhirku mengisi les kaligrafi untuk adik-adik. Maka sesuai arahan Pak Bardansyah, aku menugasi mereka membuat karya terbaik mereka untuk kurekomendasikan ke pak kepala sekolah tentang bibit unggul kaligrafi yang bisa menjadi andalan sekolah untuk dikirimkan di lomba kaligrafi nanti. Aku lebih ingin melihat potensi yang tersimpan dalam diri mereka dari pengusaan teknik dan antusiasme yang mereka miliki. Jika salah satunya down akan terlihat dari hasil karyanya. Jika keduanya maksimal, karyanya hari ini pasti akan sangat menarik. Jangan dibandingkan bagusnya dengan di daerah yang mengalami pembinaan intensif. Setidaknya mereka adalah bibit-bibit unggul di tengah padang gersang. Setelah ketemu, maka harus dirawat baik-baik agar terus tumbuh. Bukan kerdil, apalagi mati.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.