Dari Kepala Sekolah hingga Sekretaris Dinas

Target hari ini adalah menyambangi dan berdiskusi dengan para petinggi di kawasan Berau ini. Pertama kami berdiskusi dengan kepala sekolah. Berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke kantor Trakindo, sponsor yang mendanai pendampingan di sekolah tersebut. Di sana kami berdiskusi panjang juga dengan pimpinan cabang Trakindo. Tentu saja yang berkepentingan di sini adalah pendamping sekolah, dan kami adalah figuran yang butuh kenalan.

Terakhir kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Redeb, pusat kota Berau. Sebuah kawasan elit yang terletak di pinggir sungai Berau, menurut sebagian orang sebenarnya sungai itu adalah Sungai Mahakam, hanya saja karena sudah mencapai Berau sebelum akhirnya bermuara sungai di pinggir kota itu disebut Sungai Berau. Di pusat kota itulah, atas kebaikan pak Kepala Sekolah kami bisa bertemu dengan Sekretaris Disdikpora Berau. Sosok PNS yang menurutku berkarakter dilihat dari gaya bercerita dan beberapa foto-foto rekam jejaknya. Mungkin ini hanya dugaanku yang menilainya dari pembicaraan singkat hari ini. Jika itu memang benar, posisi dia menurutku adalah pilihan yang baik untuk kemajuan pendidikan di sana.

Sejauh ini, aku sementara berkesimpulan bahwa pendidikan di kawasan ini bukan bermasalah pada anggaran, tetapi pada manajerial SDM. SDM guru sudah lebih dari cukup, hanya saja mereka perlu dibuka mindset-nya untuk lebih berkembang dan mau melakukan kerja keras. Karena seperti yang sudah dibilag mas Zaid waktu pembekalan di Bogor. Di tempat ini kepala sekolah sering menghilang dan tidak mengajar atau guru-guru tiba-tiba izin tanpa sebab adalah hal biasa. Dan itu bukan yang penting untuk diributkan di sini, karena semua tahu sama tahu.

Parahnya, sekolah pun mengikuti budaya “kekeluargaan“ ini. Maka jam pulang sekolah itu bukan karena ketentuan yang tertulis di jadwal, tetapi berapa banyak guru yang sibuk hari ini atau apakah mereka sedang ada hajatan. Wow, siswa pun terkadang bisa pulang pagi atau siang. Tergantung sikon. Ini lelucon yang paling tidak lucu sedunia. Dan kuharap cerita itu tidak membuatku tersiksa setelah nanti aku melihat bukti-buktinya di kemudian hari. Karena di pagi pertama ini saja, indikasi itu sudah kubaca dari diskusi dan dialog yang berhasil kulakukan. Alamak! Bagaimana nasib murid-murid sekolah hari ini.

bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.