Sedih juga rasanya, pasti lama rasanya tidak akan bertemu lagi dengan orang sudah kami anggap seperti kakek kami sendiri. Hanya, beliau masih menjanjikan satu kali pertemuan sebelum kami balik ke Indonesia. Hemm, tidak akan ada lagi sapaan hangat dari beliau ketika kami sampai di depan pintu ruangan beliau. Hemm, cepat sekali rasanya itu berlalu. Dan kini tinggal menghabiskan waktu-waktu yang tersisa untuk membuat sejarah perjalanan hidupku di salah satu tanah impianku, Eropa.

Hari ini kami membuat janji dengan Reihan, dia bersedia menemani kami jalan-jalan ke kota Aachen, kota di mana salah satu putra terbaik bangsa Indonesia belajar. Beliau adalah Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, presiden RI ke-3, sang revolusioner teknologi yang kini nama beliau seolah-olah diabaikan, padahal jasa dan kecintaan beliau terhadap tanah air ini luar biasa. Presiden yang tidak berangkat dari politik praktis, tetapi seorang ahli pesawat yang visioner dan mengerti bagaimana membangun pondasi lepas landas Indonesia menuju negara maju.

Kecantikannya Menggoda

Kami bertemu di Wuppertal Hbf. Segeralah kami membeli NRW tiket untuk berempat, karena Reihan sudah memiliki semester tiketnya sendiri. Dan bersama kereta regional kami segera meluncur ke Aachen. Di sepanjang jalan, kami bercerita terus, apalagi sambil memandangi wajah Reihan yang super cantik itu. Kebiasaan tidurku di kereta jadi hilang, meskipun di antara kami berempat aku lebih memilih diam dan memperhatikan pembicaraan (sesekali melihat Reihan, ha ha ha), sampai Reihan menyapaku kenapa diam saja. Dengan santai aku jawab, aku milih mendengarkan aja. Hemm, pesona gadis berdarah Mesir-Maroko ini bener-bener membuat laki-laki seperti aku harus kehilangan rasa kantuk. Ah, cukup lah ceritanya tidak penting.

Kereta terus melaju hingga Aachen Westbahnhof, sebuah stasiun yang terletak dengan Masjid Jami’ Aachen. Karena hari ini hari Jumat, maka kami mengutamakan Shalat Jumat dahulu sebelum berjalan-jalan menyusuri kota Aachen. Ternyata masjidnya cukup besar, 3 lantai dan cukup luas. Wah, ternyata simbol masjid di sini seperti simbol yang pernah di pasang Shalahuddin al-Ayyubi dalam film Kingdom of Heaven. Aku sempat curiga di awal ketika turun dari kereta, apakah itu masjidnya, ternyata benar. Ah senang sekali rasanya jumpa lagi dengan saudara-saudara muslim di Jerman dengan jumlah yang lebih besar lagi.

Sembari menunggui khatib naik, aku sempatkan tilawah sepuasnya di sana. Maklum, di sini tidak senyaman di Indonesia, tilawahnya lebih banyak merecal hafalan yang ada di kepala. Jadi kesempatan siang ini sangat spesial. Akhirnya tibalah saatnya khutbah Jumat, alhamdulillah di sini khatibnya memakai bahasa Arab secara keseluruhan, sehingga relatif tidak roaming dari pada waktu di mushola kampus memakai bahasa Jerman. Namun, ternyata aku sesekali harus tertidur, untung ikhwah di sampingku selalu menjawilku hingga tidak sempat tertidur beneran. Ini pasti gara-gara di kereta tadi tidak tidur. Aha, alibi saja. Luar biasa, ternyata masjid ini dipenuhi oleh ratusan jamaah hingga shaf kami pendek-pendek dan berdesakan. Wah, ternyata jumlah kaum muslimin di Jerman cukup besar. Sebuah karunia Allah memberikan cahaya di tanah ini.

Bertemu Saudara Baru

Usai shalat Jumat kami saling berjabat tangan dan menikmati hidangan halal yang dijual di depan masjid. Aha, ketemu lagi dengan saudara setanah air di sini, ada mas Ahsan yang baru aja mulai kuliah di sini, kemudian mas Ajisaka bersama putranya. Hanya singkat saja dan sempat bertukar kartu nama. Aku berharap kelak dapat berjumpa dengan beliau. Dan ternyata Reihan mengundang paman dan bibinya kemari untuk ikut menemani perjalanan kami. Ami Basem dan ammah Fateema bersama si kecil Amr ternyata akan menemani jalan-jalan kami hari ini. Hemm, saudara baru yang ku kenal. Terlebih si kecil Amr yang kemudian aku ajak berlari-lari.

Di jerman dan mungkin di negara-negara semacamnya, menyusuri kota dengan jalan kaki adalah hal yang menyenangkan. Saking senangnya tak terasa capeknya meskipun sudah berjalan hampir 10 km. Aku kagum dengan Amr yang betah diajak jalan hingga jauh sekali. Aku hanya melempar senyum kepadanya, karena dia tidak bisa berbahasa Inggris, dan hanya mengerti bahasa Arab dan Jerman. Oh, dia selalu memanggil Reihan dengan panggilan “lala”. Lucu sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.