Seperti yang beliau janjikan, kami akan menghadapi ujian lisan face to face dengan beliau. Ah, untung saja tidak empat mata. Kami duduk bersama di ruangan beliau. Dan ternyata pertanyaan beliau cukup mudah, namun juga tidak mudah, yaitu memberikan penilaian terhadap kualitas pelayanan yang beliau dan tim berikan serta ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di sini. Yang kedua adalah memberikan pertanyaan bebas ke beliau karena beliau ingin mengetahui kadar intelektualitas kami dari pertanyaan yang kami ajukan nanti. Mudah kan? Iya, tapi juga sulit, karena salah membuat model jawaban pertama akan menjadi penjilat (jika terlalu sering memuji), jika pertanyaan kedua tidak bermutu maka akan terlihat banget bego’nya.

Parahnya aku mendapat giliran ketiga untuk pertanyaan pertama. Wah, rasanya tadi sudah diborong oleh dua temanku di awal. Hemm, aku siapkan catatan kecil dengan 3 poin kunci yang siap kuuraikan baik pujian sekaligus masukan untuk perkuliahan yang kami ikuti. Alhamdulillah, beliau puas dengan jawabanku. Untuk soal yang kedua, aku ternyata menghabiskan banyak waktu karena banyak pertanyaan yang kuajukan sampai beliau memintaku berhenti. Semoga pertanyaanku-pertanyaanku tadi cukup bermutu di mata beliau, yaitu tentang sejarah dan perkembangan sistem transportasi di Jerman dan relevansi aktivitas politik di Jerman terhadap pendidikan.

Dan alhamdulillah, kami semua dinyatakan layak mendapatkan sertifikat. Dan tentunya apa yang telah kami uraikan secara lisan harus dituliskan kembali dan dikirimkan ke email beliau sebagai feed back atas pembelajaran yang telah kami terima selama ini. Wah, senang sekali waktu aku menerima sertifikat dari beliau. Ini adalah surat sakti seperti halnya LoA yang pernah ku bawa waktu ke Kedubes Jerman di awal November lalu. Tak terasa, setelah hampir tiga pekan kuliah tiap hari, melewati hujan salju hingga hujan yang tidak salju lagi, melewati badai salju hingga angin kencang, karena tidak adanya bus malam yang sampai apartemen, semua itu rasanya terbayar dengan selembar sertifikat yang beliau berikan sendiri. Oh, ternyata begini arti keberadaan seorang Profesor di Jerman, dan mungkin di negara maju. Mereka dihormati karena keilmuan mereka, sekaligus karena sikap hidup mereka yang sangat baik kepada para mahasiswanya.

Ketika ujian tadi hampir selesai, bu Nurma juga telah sampai di ruangan kami. Akhirnya kami berpamitan dan berfoto bersama untuk kenangan terindah ini. Sebagai perwakilan dari UNS, bu Nurma mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pelayanan yang telah Prof. Tausch berikan selama ini. Prof. Tausch menjanjikan satu kesempatan terakhir untuk bertemu lagi dengan kami, beliau akan membawa istrinya untuk turut serta. Beliau akan mengunjungi apartemen kami tepat pada tanggal 25 Desember saat hari Natal tiba. Beliau akan mampir ke tempat kami sebelum melanjutkan ke rumah mertuanya di Minden. Oh, rasanya mengharukan sekali perpisahan ini.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.