Ini adalah hasil observasi singkat tentang ruang-ruang yang sudah ku masuki dalam rangka mengikuti perkuliahan bersama Prof. Tausch dan tim. Ada yang ruang kelas biasa, ada yang ruang laboratorium bahkan ada yang merupakan ruangan presentasi khusus. Ada banyak fasilitas dan media yang menurutku sangat lengkah dan jauh sekali jika dibandingkan dengan kondisi kampus di Indonesia (ya iyalah, kalau pengadaan alat dan pembangunan gedung di Indonesia kan banyak yang disunat).

Namun demikian, ada beberapa prinsip yang bisa aku bagikan kepada para pembaca, siapa tahu di antara pembaca sekalian ada yang memiliki rencana membangun sekolah sendiri atau menjadi pemegang kuasa anggaran sehingga ini dapat menjadi sedikit pertimbangan. Yah, mungkin sedikit saja dari seorang pengamat amatir. Inilah prinsip-prinsip itu.

Pertama, kelas dan peralatannya adalah sarana yang memudahkan dan memberikan kenyamanan dalam proses transfer pengetahuan. Maka desainnya harus membuat siswanya betah. Apa yang ada di sini, desain ruang kuliahnya sangat oke. Dari depan ke belakang dibuat naik seperti tangga, sehingga mahasiswa tetap dapat melihat dosen dan apa yang dikerjakannya dengan jelas saat kuliah. Kemudian kelas didesain agar tidak bising dengan dinding pelapis yang menyerap bunyi. (Dan karena karakter orang Jerman yang dingin, ga urakan seperti tempat kita, sehingga ketika kuliah bener-bener bisa tenang dan fokus). Selain itu, meski lagi musim dingin seperti ini, jumlah penghangat di ruangan sangat memadai sehingga kondisi kelas sangat nyaman.

Kedua, media pembelajaran itu sarana yang memudahkan, bukan merepotkan. Aku baru tahu ada papan tulis yang bisa diatur oleh penulisnya. Jadi mau dosen yang tinggi atau pendek tidak akan mengalami masalah dengan papan tulis. Karena dosennya bisa menaik-turunkan papan tulis itu sendiri. Dan dia dapat menulis dalam posisi yang tetap dan nyaman. Untuk kelas perkuliahan kimia dan pendidikan maka sarana seperti keran air dan almari untuk menyimpan alat-alat tersedia dibawah meja dosen di depan. Sehingga para dosen tinggal membawa bahan-bahan kimianya ketika menuju kelas.

Di sini perkuliahan masih menggunakan kapur tulis, aku belum sempat bertanya mengapa tidak pakai whiteboard yang tidak berdebu. Dan ketika kuketahui cara membersihkan papan tulis usai perkuliahan ternyata memang tidak berdebu seperti di Indonesia. Pertama dengan penghabus yang langsung menyerap kapurnya, yang kedua dengan air yang membuat lapisan papan tulisan. benar-benar bersih. Dan untuk urusan ini setiap dosen mengerjakannya sendiri bahkan seperti Prof. Tausch. Kalo di Indonesia, kebanyakan dosen akan bilang, “dek, tolong di hapus ya nanti”. Selain itu papan yang digunakan sepertinya bukan triplek atau melamin seperti yang kita pakai di Indonesia, melainkan bahan sejensi asbes yang sangat halus permukaannya.

Ketiga, ini opsional saja jika memang di tempat kita telah mencapai derajat ini. Yaitu fasilitas media modern yang representatif. Ini adalah pengalaman ketika mengikuti kelas presentasi dari masing-masing mahasiswa yang telah mendapat perkuliahan media sebelumnya dari Dr. Simone. Di ruangan yang khusus ini mereka dapat mempresentasikan hasil presentasi media mereka dengan menggunakan sebuah papan presentasi mirip LCD. Bedanya, kalo di tempat ini yang mengoperasikan laptop itu mahasiswa sendiri dengan alat seperti spidol besar yang bisa digunakan untuk menge-klik dan mengoperasikan layar presentasi. Jadi dia presentasi di layar  LCD yang  tidak dipancarkan tetapi seperti tiba-tiba muncul di sebuah layar kecil saja.

Ketiga prinsip tersebut sepertinya menjadi hal yang sangat baik di sini sehingga mahasiswa itu dapat menikmati proses belajarnya. Nyaman belajar, mudah medianya, dan ditunjang dengan modernisasi yang sejalan dengan perkembangan intelektualitas mereka. tak mengherankan jika mereka menjadi guru nanti, siswa-siswanya akan semakin kreatif karena guru-gurunya saja sudah mendapatkan pendidikan yang baik seperti ini.

Apa yang bisa kita lakukan di sini, tidak usah jauh-jauh lah. Bagi pemegang kebijakan anggaran dan para kontraktor serta para politisi yang mulai jadi poli-tikus, ayolah jangan menyunat anggaran, khususnya anggaran pendidikan dan pembangunan infrastruktur, juga anggaran lainnya, biarkan pembangunan di Indonesia itu baik sehingga hasilnya awet. Untuk para guru, ga usah rewel kalau tidak ada media yang sesuai, minta izin kepala sekolah untuk memodifikasi media-media di kelas agar baik. Dan jangan kebanyakan nyuruh-nyuruh jika memang bisa mengerjakannya sendiri dan sebenarnya memang itu tugas kita. Untuk para kepala sekolah, sudahlah jangan banyak mimpi beli mobil mewah, mending beli aja bus, terus kalau ke kampus ngetem dulu di perempatan biar para siswanya ikut. Kalau hanya ngejar gaya-gayaan saja, ruwet dah pendidikan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.